Aide-mémoire

Entries categorized as ‘krenteg’

for my Dream…

August 7, 2009 · 4 Comments

Aku membayangkan sebuah cita-cita terpancang di sana, di kejauhan, nun jauh di mato. Ku genggam erat-erat, meretasi belain payah, airmata, darah. Ku ukir, sedikit demi sedikit, penuh hati-hati. Ku korbankan banyak kesempatan yang, orang bilang diriku terlalu gegabah, sebab sudah meninggalkannya. Apalah arti sebuah kesempatan yang, kata orang, emas itu, jika diriku tak tertarik setitik pun terhadapnya?

Toreh perjuanganku ada di dalam tulisan. bagaimana agar orang-orang di sekitarku, tahu tentangku, bukan dariku, tetapi dari karyaku. Ini adalah prinsip. Persoalannya, kini aku tengah terberangus oleh ‘cara’ itu sendiri. Mengapa menulispun rasanya tak bertenaga? tak  greget? Diriku terbuai oleh potongan-potongan kehidupan, yang saat ia kualami, betapa diriku tersiksa setengah hidup. Dari ukuran idealitas yang kuamini, potongan-potongan itu tentu saja adalah kewaguan. Buang-buang tenaga saja. Tak terkecuali, waktu.

Lantas, akan seperti apa kelak, diriku? Aku sungguh begitu capek memayahi diri seperti ini. Capek luar biasa. Apakah pertarungan ini masih saja terus berlanjut? Pertanyaan bodoh rasanya. Sebodoh orang yang menuliskannya di sini. Aku bagaikan orang bodoh—“bagaikan”, bukan maksudku, pembelaan—di tengah limpahan pengetahuan di sana-sini.

Jerman, kukira, memberiku jawaban atas keingintahuanku selama ini. Ternyata, tidak. Justru kebodohan diri sajalah yang aku temukan begitu kerapnya di sana. Untaian mutiara yang pernah kucicipi sebelumnya, kini lebur sudah, luruh meluruhi kesejatian diriku: yaitu keakutan akan keterbatasan diri. Jikapun pikiran sudah tepat, maka pelaksanaannya yang mbleset—itulah, kata sahabat Minke, kekeliruan, tidak kesalahan. Aku ingin menyudahi semua ini untuk memulai [kembali] cita-cita yang dahulu tertunda. Seorang diri, di atas kaki sendiri.

6 Agustus 2009; 3.25 am

Categories: krenteg

Dua Minggu di Negeri Orang: Sebuah Catatan Perjalanan

June 13, 2009 · 7 Comments

Pagi itu, 6 Mei 2009. Udara begitu hening, meraup-raup, berebut pelan. Tak lama lagi saya akan tinggalkan semua kesibukan di Jogja. Pesawat GA 205 jurusan Jakarta sudah menunggu dinaiki. “Jam 10.25 kita harus sudah tiba Cengkareng, cepat!”, katanya menderu.

Perjalanan panjang segera dimulaii.

Frankfurt: terasa aneh di telinga. Sebuah nama yang tak banyak saya ketahui. Konon, di sana ada sekolah bernama The Instititute of Social Research—sebuah laboratorium pemikiran filsafat, pencerah “kiri baru”, yang dihuni oleh Hokheimer, Adorno, Marcus, dan Habermas. Tak mungkin, pikirku. Itu kota keramat bagi para pembaca filsafat—sepertiku. Setelah kuraba-raba diri: saya memang tidak sedang berkhayal. Kota itu memang yang sedang hendak dituju. Tegang, ngilu, gembrobyos—bukan karena sebentar lagi tiba di Frankfurt, tapi pengalaman pertama menaiki pesawat terbang itulah yang membuat saya merinding, ndredeg, spot jantung.

***

7 Mei 2009, 06.00 pagi waktu setempat. Tanah yang dijanjikan itu mulai teraba oleh roda pesawatku: Qantas-QF5. Tepuk tangan penumpang dari penghujung depan hingga belakang begitu riuh bergemuruh, takjub, bagai baru saja nonton pertunjukan karya John Sebastian Bach di Leipzig Gewandhaus Orchestra. Setelah 12 jam lebih di pesawat, kita disuguhi sebuah leanding pesawat yang begitu indah, lembut, nyaris tanpa getar. Itu sebabnya semua bertepuktangan, apresiasif, penuh semangat.

Kota Frankfurt begitu bersih dan sepi. Pohon-pohon masih lebat, rindang, bagai kota di tengah hutan. Gedung-gedung tinggi menjulang ke atas seolah hendak menyalami langit. Semua serba tertata rapi, tertib, disiplin, kering—bukan gaya-gaya posmo lah kira-kira. Kendaraan yang lalu-lalang hanya tram (semacam busway), mobil, dan sepeda-pancal. Jarang terlihat orang mengendarai sepeda motor. Tak ada pula orang nongkrong di sembarang tempat. Di siang hari, orang-orang bekerja di dalam ruang, dengan serius, detail, serta ketekunan yang selalu saya kagumi.

Di Jerman sendiri, kota Frankfurt memang dikenal sebagai the city of the banks. Tak kurang dari 300 bank berkelas, nasional maupun internasional, bertengger di kota ini—kecuali dari Indonesia (maybe). Saya menyaksikan sendiri betapa di setiap sudut jalan selalu ada kantor bank: Deutsche Bank, Commerzbank, Dresdner Bank, European Central Bank dan seterusnya. Di antara sekian deret bank, nama yang paling saya sukai adalah Deutsche Bundesbank (German Federal Bank).

Persis seperti Jogjakarta, Frankfurt dikenal juga sebagai kota multikultur. Para perantau, imigran, konon, lebih senang mendatangi kota ini ketimbang kota-kota lain. Entah kenapa. Lebih dari 180 kebangsaan: Turki, Yunani, Italia, Rusia, Kroasia, India, Afrika Selatan, Lebanon, Korea, dan seterusnya. Tentang agama, mayoritas Protestan, dibawahnya, Katolik, Islam (3,5 juta jiwa), baru Yahudi (7.300 jiwa). Saya tak begitu tahu soal perkembangan Islam di sini. Tapi Mas Agus—teman saya di Frankfurt—sempat bilang, baru saja didirikan sebuah masjid di Franfurt, bernama Abu Bakr. Ia sebut pula, semenjak 1970, di seluruh Jerman sudah berdiri tegak, tak kurang dari 2.600 mushola, 120 masjid. Saya jadi teringat sebuah pameran yang digelar di Bandung, Mei lalu. Yaitu sebuah pameran fotografi, karya Willfried Dechau, seorang fotografer Jerman, yang berusaha mengabadikan potret kehidupan muslim dari masjid ke masjid, dari kota ke kota: Pforzheim, Manneheim, Hamburg, Stuttgart, Frankfurt dan seterusnya.

***

Siang itu, masih tanggal 7 Mei, saya bersama-sama 14 delegasi Indonesia, oleh KJRI (Konsulat Jendral Republik Indonesia) Frankfurt diajak menelusuri Frankfurt lebih intim: Römerberg, Historisches Museum, Sungai Rheine, dan Frankfurt Hauptbahnhof (Central Station). Beberapa tempat penting lain, seperti Johann Wolfgang Goethe University, Deutschherrn Bridge, dan St. Bartholomeus Cathedral, hanya sempat kami lewati. Tak semua tempat-tempat yang saya kunjungi itu menarik memang. Tapi cukup berkesan bagi saya sebagai sebuah pengalaman pertama. Ya, pengalaman pertama memang seringkali melekatkan kesan mendalam, apalagi “malam pertama” saya di kota ini: gila, serangan jetlag membabi buta tiada ampun!

Sebetulnya saya ingin sekali berkunjung ke The Instititute of Social Research, lokasi Madzhab Kritis menelorkan gagasannya. Juga Max Plancke Society, laboratorium riset-riset dasar, yang belakangan baru saya tahu dari Mas Sonny—teman baik saya di Leipzig, bahwa komunitas ini telah melahirkan banyak tokoh penerima hadiah nobel. Selain Max Plancke Society, sebetulnya ada tiga komunitas riset utama lainnya yang sebagian besar dibiayai negara. Setiap komunitas ini, termasuk Max Plancke Society, punya berbagai institute yang tersebar di seluruh Jerman.

Tiga itu adalah, pertama, Helmholtz Society; ini untuk riset interdisipliner. Komunitas Helmoltz adalah komunitas riset dengan peneliti dan dana riset terbesar di Jerman. Risetnya dari antariksa sampai kutub utara, juga lingkungan. Meski interdisipliner, tahun lalu, nobel kedokteran diperoleh peneliti Helmholtz; dua tahun lalu nobel fisika juga diboyong oleh peneliti Helmholtz, Peter Gruenberg, lantaran sumbangannya dalam teknologi penyimpanan data, antara lain, membuat prosesor laptop berkapasitas besar, tapi berukuran lebih mungil.Kedua, Frauenhofer Society; ini untuk applied research. Riset yang diarahkan untuk industri. Tak heran Frauenhofer adalah komunitas riset dengan produksi paten paling banyak. Dan terakhir, Leibniz Society; ini untuk riset-riset strategis.ii

Sayang, saya tak boleh berlama-lama di kota ini. 8 Mei, jam 11.19 siang waktu setempat, saya dan Brigitta—teman baik saya di Filsafat UGM—sudah ditunggu oleh sebuah kereta api, tujuan Leipzig. Di kota ini, dosen saya sudah tak sabar menunggu sebuah bingkisan “spesial” dari Indonesia…

***

Tak ada jam karet. Tepat jam 11.19 kereta tujuan Leipzig, berangkat.

Saya menunggangi kereta DB Bahn (Deutschen Bahn) IC (Inter-City) 79659. IC adalah jenis kereta kualitas kedua sesudah ICE (Inter-City Express), berkecepatan 300 km/jam. Kereta ini sungguh terawat dengan baik: bersih, rapi, luas, fasilitas AC, Warung Makan, WC, Wi-Fi. Tenang, tak berisik. Tak ada riuh obrolan yang gayeng seperti di kereta Jogja-Tulungagung. Semua sibuk dengan dirinya sendiri, seorang diri, tak ada basa-basi.

Untuk kantong Indonesia, kereta jenis ini memang cukup mahal. Sekali jalan, sekitar 60-100 uero (800.000-1.500.000). Tapi saya cukup beruntung karena telah terbantukan oleh German Railpass—sebuah layanan tiket kereta, paket hemat, bagi para pelancong dari luar Eropa. Tiket ini hanya bisa dibeli di luar Eropa. Saya beli tiket ini seharga 160 euro di Jogja. Dengan tiket itu, saya menghemat anggaran hampir 500 uero, plus gratis naik kereta jenis apa saja, kemana saja.

Pemandangan di sekitar kereta tampak elok, polos. Lebih menarik daripada Frankfurt. Kuning, hijau daratan, amat lapang dan luas, seperti sawah, sepi dari penghuni. Baling-baling sumber energi listrik tenaga angin, berputar-putar pelan di sekitarnya. Rumah dan gedung terlihat meloncat-loncat, sepotong-sepotong, bagaikan titik-titik koordinat yang saling menjauh terpisah. Satu per satu, kota-kota kecil dan sedang terkejar: Fulda, Eisenach, Gotha, Erfurt, Weimar (kota dimana Nietzsche menemui ajal),….. dan akhirnya, jam 14.41, tepat sesuai jadwal, Leipzig.

***

8 Mei 2009. Dua kaki saya di atas tanah Leipzig. Jauh berbeda dan tidak sekaku Frankfurt. Kota bekas alumni Jerman Timur ini memang sedang berbenah. Saya melihat banyak rehap bangunan di sana-sini. Kota Leipzig, kabarnya, hendak disulap menjadi salah satu kota pusat industri bagian Jerman Timur.

Di kota ini bercongkol sebuah kampus penting bernama Leipzig Universityiii (1409), universitas tertua kedua sesudah Heidelberg University (1386). J. Gottsched, Leibniz, Gothe, Fichte, Richard Wagner adalah beberapa tokoh brilian yang pernah menikmati belajar di sini. Konon Nietzsche pernah pula singgah di sini, lantaran takjub dengan pementasan Tristan dan Meistersinger, karya Richard Wagner.

Saat saya datang, Universitas Leipzig juga tengah bersolek. Desember, 2009 nanti, menyongsong 600 tahun usianya, Universitas Leipzig hendak merayakannya dengan, salah satunya, mengundang seluruh ilmuwan dan filosof terkemuka dari seluruh dunia. Tentu yang tak mungkin terlewat adalah sebuah pertunjukan orkestra di Leipzig Gewandhaus karya J.S. Bach. Karena di kota inilah composer genius itu dimakamkan dan diagungkan.

Beberapa tempat istimewa memang ada disini. Saya cukup terkesan saat ditemani Pak Farid (dosen saya) dan Mas Sonny ketika mengunjungi City-Houchhus Leipzig, St. Nicholas Church (Thomaskirche), Bundesverwaltungsgericht (The Federal Administrative Court of Germany), Gedung Gewandhaus Orchestra, Altes Rathaus, Mädler-Passage (di bawahnya, ada ruang bawah tanah, bernama Auerbachs Keller, seperti restoran, tempat Gothe menulis Faust), Altes Rathaus, Stadtisches Kaufhaus, dan Moritz Bastei—café mahasiswa bawah tanah.

Selebihnya, ada dua tempat di kota ini yang paling saya sukai. Pertama, University library Bibliotheca Albertina. Sebuah perpustakaan legendaris, berusia 6 abad. Ada lagi, Deutsche Bibliotheca—satu-satunya perpustakaan yang khusus mengoleksi penelitian dan publikasi berbahasa Jerman. Konon, setiap hari, tak kurang dari 200 penelitian dan publikasi berdatangan, menambah deretan koleksi perpustakaan. Kedua, Trodel & Gebrauchtwarencenter, yaitu pusat barang-barang bekas, atau boleh disebut: klitikan. Berbeda dengan klitikan Malioboro, klitikan Leipzig memang menjual barang-barang bekas, tapi rupa dan kualitasnya jauh dari sebutan bekas. Harganya pun cukup terjangkau.

***

9 Mei 2009. Tiba di Technische Universität Ilmenau, Thuringen. Tempat konferensi ISWI (9th International Student Week in Ilmenau) diselenggarakan. Ilmenau adalah salah satu kota kecil (sekali) di negara bagian Thuringen. Secara struktural dan kultural, Ilmenau adalah bekas bagian dari Negara Jerman Timur. Kota ini dikerubuti gunung-gunung. Tak seramai Leipzig, apalagi Frankfurt, dan memang bukan merupakan kota kapital.

Teman-teman saya yang dari Frankfurt sudah datang sejak siang tadi. Saya bersama Brigitta memang datang agak telat. Kami baru mulai melengkapi registrasi selepas makan malam. Tapi tak mengapa. Karena di belakang kami ternyata masih banyak juga yang terlambat. Tapi itu bukan justifikasi keterlambatan kami. Terlambat ya terlambat !

ISWI tahun ini diikuti oleh 361 mahasiswa dari 72 negara. Indonesia adalah negara pengirim peserta terbanyak keempat sesudah Ukraina (58 delegasi), Rusia (34 delegasi), Georgia (24 delegasi), baru Indonesia (19 delegasi: 3 cowok 16 cewek).

Tema ISWI kali ini adalah “Human Right, Right Now!”. Para peserta dipersilakan memilih bidang kajian sesuai minat yang terfasilitasi oleh groupwork. Di hari pertama saya memilih Human Right and Politics Group, sebelum kemudian di hari kedua dan seterusnya, saya lebih senang memutuskan bersama Philosophy Group. Tak banyak peserta yang meminati group ini. Entah kenapa. Di kelas ini, saya hanya ditemani 9 orang. Tapi itu bukan alasan untuk tidak berdiskusi. Dan benar perkiraanku: bukan kuantitas, yang penting kualitas. 9 orang ini memang mahasiswa luar biasa. Bukan lagi pemikiran teoritis-filosofis itu yang diulas, tetapi jauh lebih radikal, yakni mensintesiskan pemikiran-pemikiran filsafat ke dalam kasus-kasus hak asasi manusia. Simpul-simpul otak saya meletup-letup, tertantang takjub oleh gairah intelektual yang begitu erotis, penuh apresiasif terhadap gagasan, tak takluk pada keselesaian.

Selain diskusi group, saya juga mendapat kesempatan mendengarkan dan berdiskusi dengan para ahli, aktivis, dan ilmuwan pada sesi general lecturers. Saya akan menyebut mereka semua di sini:

Dr.Wolfgang Heins (Assistant Lecturer of the Freie Universitat Berlin and member of the anti-torture-committee of UN-Human Rights Council), Dr.Hans Rudolf Herren (Scientist of Biological Pest Control and World Nutrition Awardee, penerima World Food Prize tahun 1995), Mona Montakef (Social Scientist, Worker of the German Institute of Human Rights), Dr. Ulrike Von Pilar (the Former President and Co-founder of German Departement of Medicins Sans Frontieres), Landolf Scherzer (Journalist and Writer), Prof. Godula Kosack (German Professor, Lecturer on Women Rights Violations), Brian Wood (Amnesty International Researcher and Policy Manager for Military, Security and Police Transfer), dan Prof. Dr. Angelika Köster-Lossack (Scientist of Indology, Anthropology, and Sociology in the Heidelberg University).

***

Saya ingin cerita sedikit tentang sebuah diskusi sederhana antara saya dengan seorang ilmuwan sosial dari Heidelberg University, Prof. Angelika namanya. Bagi saya, pertemuan ini begitu istimewa karena bertolak dari sini, saya benar-benar sadar akan “pentingnya mbangun deso”; back to our country.

Pada mulanya saya coba bertanya soal pandangan beliau, sebagai representasi Barat, terhadap Indonesia, terutama tentang HAM. Tanpa sengaja, di sela-sela obrolan itu saya menyebut-nyebut komunitas saya: Being Community dan Jurnal KacaMata yang, saya katakan, begitu tekun mendalami karya-karya Filsafat Barat. Ia menjawab begini, “Oh, bagus sekali… tapi kenapa Anda tidak belajar filsafat anda sendiri, Filsafat Indonesia. Bukankah itu lebih menarik daripada anda belajar filsafat kami (Filsafat Barat)?”. Pertanyaan itu membuat saya terhenyak. Kerut, dahi saya.

Lalu saya jawab, “yah, kita memang sedang membangun Filsafat Indonesia melalui cara kita sendiri, Prof. Sebagaimana Prof ketahui, Pancasila adalah salah satu dari hasil pemikiran filsafat bangsa kami…”. Beliau langsung katakan, “Nah, itu yang membuat kami sangat tertarik kepada Anda, anak muda… Harmony in Diversity; Bhineka Tunggal Ika”.

Rasanya begitu bangga menjadi Indonesia. Apakah memang begitu ya? Kadang kita tak sadar, seonggok “permata-permata” itu ada di sekitar kita, di dekat kita. Sesuatu yang barangkali Eropa pun tak memiliki dan perlu belajar kepada kita. Itulah kenapa kira-kira Tuhan menciptakan perbedaan di sana-sini: bukan untuk digerutui, tetapi untuk direnungi dan dipahami.

***

Selama 9 hari di Ilmenau, saya memang merasa sangat dimanjakan oleh berbagai pertunjukan dan festival, yang membuat saya bertekuk lutut, kagum. Festival seni, musik, fotografi, pemutaran film, jalan-jalan di Erfurt Cathedral, St. Severus Chruch, Domplatz, Benediktplatz, Kulturhof, menikmati “keanehan” makanan khas Jerman di Ratsteller, dan sembilan hari “tersiksa-nikmat” menjadi vegetarian tulen tanpa nasi, berlauk terong bakar, apel hijau, roti kering, dan wortel mentah.

16 Mei 2009, malam. ISWI 2009 resmi ditutup. Keesokan harinya, saya kembali ke Leipzig, melepas penat, di rumah dosen saya. 19 Mei, saya berangkat ke Munchen naik kereta ICE. Saya coba iseng ngecek harga tiket kereta ICE Leipzig-Munchen. Astaganaga, 102 euro, sekali jalan! Tetapi saya memang tak perlu bayar. Germanrailpass masih bisa dipakai, gratis. Sayang, di Munchen, saya hanya menyusuri pojok-pojok Munchen Hauptbahnhof. Tak bisa kemana-mana, karena waktu begitu cepat. Sebelum malam saya harus kembali ke Leipzig.

20 Mei, saatnya kembali ke Indonesia. Pesawat saya parkir di Frankfurt, berangkat malam jam 23.55. Siangnya, saya putuskan mampir dulu ke Berlin (karena cuma 1 jam dari Leipzig). Di kota ini pun saya tak bisa berlama-lama, waktu terus berlari begitu cepat, mengejar saya. Saya hanya keliling di sekitar Berlin Hauptbahnhof yang sangat besar, megah, dan berbau serba teknologi itu. Sore, 17.40 saya tiba di Frankfurt Hbf. Kereta menuju bandara terlambat 10 menit. Para penumpang yang rata-rata berpakaian sibuk, menggerutu, ngomel-ngomel marah, memaki-maki keterlambatan. Padahal cuma 10 menit, pikirku. Jauh dari kebiasaanku.

20.35. Disambut bule fasih berbahasa Indonesia petugas check-in. Indonesia semakin dekat. Andaikan saja bahasa Indonesia menjadi bahasa international. Wow, pikir saya.

Nologaten, 13 June 2009

~ Moch Najib Yuliantoro

i Sebuah perjalanan dalam rangka menghadiri 9th International Student Week in Ilmenau (ISWI) di Technische Universität Ilmenau, Thuringen, Jerman pada 8-17 Mei 2009.

I would like to thank to Cuk Ananta Wijaya, Rosyid and Chairil Anwar ZM who edited my paper “An Aoutline of Global Civil and Political Rights: Indonesia Experiences”. I also thank to Dr. Mukhtasar Samsyuddin (Dean Faculty of Philosophy GMU), Prof. Yudian W. Asmin, Ph.D (Dean Faculty of Syaria UIN Sunan Kalijaga), Samsul Maarif M., Sartini, Farid Mustofa, Imam Wahyudi, Arqom Kuswanjono, Musthofa A. Lidinillah, Mas Sonny, Muhsin Kalida, Qusthan, Azah, Brigitta, KJRI Frankfurt: Om Didit, Teh Mira, Mas Irfan, Kang Agus and Kang Heri who helped me to preparing all needs to this conference. To Pinastika Prajna Paramita (Faculty of Law Studies, Brawijaya University) and Rahmat Hidayat HM (International Student of Economics Faculty, Islamic University of Indonesia): thank a lot for your work in our presentation. I specially thank to my parents and the family who fully support me to attend in this conference.

ii Terimakasih kepada Mas Sonny atas bantuan informasi dan koreksi.

iii Tahun 1953, seorang pemimpin Komunis Jerman Timur merubah nama kampus itu menjadi Karl Marx University of Leipzig. Baru 37 tahun kemudian, nama yang lama kembali disematkan hingga sekarang.

Categories: krenteg

Latah Soul

March 17, 2009 · 1 Comment

Saya ternganga menatap tulisan-tulisan yang soulnya berbeda-beda itu. Ada macam tulisan yang ketika membacanya soulnya begitu redup, diam, dan seolah dunia terasa pedih. Tulisan ini membuat mulut saya terbungkam sedemikian lama, bahkan hingga kini masih susah terbuka. Ada pula tulisan yang membuat hati saya riang, terang, tertawa. Tulisan ini mengalir begitu jauh hingga membuat saya tak sadar telah membacanya begitu banyak—biasanya tulisan-tulisan seni, terjemahan fotografi atau gaya-gaya kuliner mewakili soul ini.

Menulis memang tidak boleh selalu jadi epigon. Penulis, selaiknya penyair, sejogjanya menulis dengan menaati kejujuran. Jujur dalam gaya tulisannya dan jujur dalam isi tulisannya. Untuk jujur yang kedua ini, setidaknya isi itu muncul tidak dari hasil kreatifitas kejahatan lah, tapi perpaduan yang tetap menghargai komposisi perpaduan tersebut. Sederhananya, tidak copy-paste isi dan materi.

Gaya tulisan seseorang mungkin dipengaruhi, selain buku yang lebih dominan ia baca, juga suasana hati, gaya berpikir, dan gaya hidup penulisnya. Bagaimana penulis itu memandang dunia, perspektifnya seperti apa, gimana tindak-tinduk kesehariannya, itu beberapa catatan bagaimana soul tulisannya terbentuk.

Selama ini saya akui lebih sering mengikuti gaya-gaya tulisan orang lain. Gaya tulisan saya bisa dibilang, meminjam istilah Pak Slamet Sutrisno, suka latah. Kadang ingin seperti GM, SHG, MMA, MSMM, GD, gaya-gaya opini Kompas, dan sebentar lagi mungkin Pram (nunggu rambut panjang dulu, baru bisa baca Pram:-). Tapi sejujurnya saya ingin memiliki karakter tulisan sendiri, tanpa bayang-bayang siapapun. Seperti halnya menulis catatan harian, tulisan ala saya tentu tetap mengedepankan kenyamanan pembaca tanpa mengenyampingkan informasi yang begitu kaya di dalamnya *pokok-e full service*

Satu hal saya dapatkan dari perjalanan ini ialah bahwa spesialisasi satu gaya bacaan itu memiskinkan ternyata. Yang sebaiknya dilakukan tetap seperti ini: membaca banyak hal, menyerap soul penulisnya, lalu memadukannya dengan gaya kesenanganku sendiri. Saya rasa itu lebih adil. Di satu sisi, saya tidak berbuat kejahatan kepada penulis aslinya (menjiplak gaya tanpa ijin), di sisi lain, saya tidak tercerabut dari historisitas rasa dalam diri saya. Akhirnya yang menjadi masalah terbesar sebetulnya bukan karena saya tidak tahu tentang ini atau itu, tetapi semata-mata karena saya tidak mengetahui “secara pasti” tentang ini dan itu. Persis seperti Al-Gore dalam “An Inconvenient Truth” memantapkan diri menekuni isu global warming ketimbang dunia politik yang kadang tidak ia ketahui secara pasti jluntrungnya.

16 Maret 2009

Categories: krenteg