Aide-mémoire

Entries categorized as ‘esai-esai’

Kesalehan (Sosial) Pasca-Lebaran

September 29, 2009 · 1 Comment

Lebaran sudah usai. Gegap gempita di surau, masjid, televisi hingga tumpukan sandiwara-Islami lamat-lamat kehabisan pesona. Yang kini penuh pesona adalah bukan lagi surau atau masjid, melainkan jalan-jalan yang disesaki para pemudik, lantaran hendak cepat sampai di tanah rantauan, melanjutkan sisa-sisa perjuangan hidup.

Sebagaimana bayi lahir dalam keadaan bersih, tanpa noda lahir maupun batin, seperti itu pula harapan setiap insan seusai lebaran. Setiap kita senantiasa bermunajad kepada Sang Khaliq agar berkenan memberi ampunan, menambah erat persaudaraan, bersih hati dan pikiran serta semakin baik amal perbuatan.

Dari doa-doa itu maka jelas sudah, manusia pada hakikatnya selalu ingin memperbaiki diri. Meskipun selalu mereka sadari bahwa kesempurnaan bukan suatu kemurahan, namun niatan untuk hijrah menjadi manusia terbaik selalu saja terpatri dari hati terdalam tiap-tiap mereka. Tak lagi berharap terjerumus—atau menjeremuskan diri—pada noktah suram gelap kehidupan karena, dengan cukup sadar terkadang manusia tahu, hal itu amat bertabrakan dengan suara-hati-kecilnya.

Tentu saja doa-doa diatas merupakan prinsip ideal bagi suatu kehidupan (beragama). Sebab itu barangkali selamanya ia selalu merupakan sebuah prinsip, pengharapan dan (bahkan) sebuah rule of life tak tersurat. Sementara itu, di sisi lain, senyatanya yang tergelar di dunia sehari-hari tidak identik persis dengan pengharapan-pengharapan tersebut. Selalu saja ada benturan antara “yang ideal” dan “yang nyata”, antara idealitas dan realitas.

Memang proses kehidupan tidak selalu melangkah linier. Ketegangan dan juga bahkan benturan selalu merupakan hal biasa dalam sebuah proses. Malah, jika meminjam persepektif Althusserian, munculnya benturan, ketegangan atau harmoni antara ‘yang normatif’ dan ‘yang empiris’ itu justru adalah sebuah kemajuan, oleh karena sesungguhnya proses reproduksi sosial tengah berlangsung disana.

Penjelasannya, bahwa “pengalaman (masing-masing) kita adalah sebuah fungsi bagi kehidupan sosial. Yang oleh karenanya, pengalaman kita secara sosial pun (akhirnya) terbatasi olehnya” (Baltas, 1986). Dengan demikian, maklumlah jika kehidupan sosial sedemikian kuat turut membatasi ide, gagasan serta idealitas yang hendak kita salurkan ke sejumlah pengetahuan maupun tatanan kehidupan sehari-hari.

Nah, yang terjadi seusai lebaran ini, seperti tertulis di tiga paragraf awal adalah sebuah pengharapan untuk merealisasikan prinsip-normatif agama (yang amat ideal) ke dalam kehidupan sehari-hari (yang amat empiris dan praktis).

Itu bukan persoalan mudah ternyata. Apabila agama boleh kita andaikan sebagai sebuah teks, maka benturan itu muncul dari konteks—keadaan sosio-kultur dimana teks itu muncul, hendak dipahami maupun direalisasikan. Persoalannya sekarang kemudian bukan lagi memperdebatkan kebenaran tekstual-prinsip-normatif-agama, namun yang terpenting adalah bagaimana interpretasi terhadap tekstual-prinsip-normatif-agama itu seirama dengan konteks zaman yang dihadapi saat ini.

Yang dimaui tentu saja adalah keselarasan interpretatif antara teks (idealitas) dan konteks (realitas). Keselarasan ini kemudian bukan saja melahirkan kepekaan kaum beragama terhadap realitas sosialnya, namun lebih dari itu, harapannya, mampu melahirkan tatanan baru tentang kesalahen sosial dalam artian sesungguhnya.

Melalui pemahaman atas konsep kesalehan sosial semacam ini, dinamika proses reproduksi sosio-religius akan berjalan secara harmoni minus konflik. Sebagaimana pula reduksi terhadap jejak-jejak “kekejaman sosial” seperti ideologi terorisme, misalnya—yang semata-mata karena kesalahan dalam menafsirkan teks—bisa sedikit dipertajam. Wallahu a’lam.***

Nologaten, 29 September 2009

~ Moch Najib Yuliantoro

Categories: esai-esai

Quo Vadis Netralitas Ilmu?

September 28, 2009 · Leave a Comment

: merupakan naskah lanjutan dari tulisan sebelumnya, “A Salt of Physics’s Earth”, yang berisi catatan sederhana atas “Ideological ‘Assumptions’ in Physics: Social Determinations of Internal Structures” (1986), buah tangan Aristides Baltas. Saya sarankan untuk membaca naskah aslinya terlebih dahulu (bisa diunduh di JSTOR, gratis) atau membaca tulisan review saya di blog ini sebelumnya, berjudul “A Salt of Physics’s Earth”. Masukan, kritik dan saran amat saya harapkan demi perbaikan gizi tulisan. Semoga berfaedah.

***

Dalam tulisannya berjudul Ideological “Assumptions” in Physics: Social Determinations of Internal Structures (1986), Aristides Baltas memberi kesimpulan bahwa “sistem konseptual fisika kekinian nyata-nyata terbukti terbatasi oleh standar ilmiahnya sendiri”. Di satu paragraf sebelumnya, Baltas juga mempersoalkan adanya diskriminasi antara teori ilmiah dan teori non-ilmiah (p. 147).

Nada kalimat itu seolah menunjukkan telah terjadi ketegangan terkait standar keilmiahan termasuk pengaplingan (diskriminasi) teori dari sebutan ilmiah dan non-ilmiah. Diskriminasi ilmiah, yang kemudian memunculkan penyikapan ideologis (terutama) terhadap sains-sains lampau yang terdiskualifikasi dari sebutan ilmiah, dalam pendapat Baltas, tak lebih dari akibat sebuah hasrat untuk memperjuangkan status sosial (p. 137)—sebab itulah, maka ia merupakan bagian “asumsi” ideologis karena memasukkan sense yang berasal dari pengalaman yang sebelumnya sudah terdeterminasi oleh proses sosial-praktis.

Kiranya cukup menarik kemudian bilamana “melanjutkan” makalah Baltas itu terkait persoalan netralitas sense yang, seperti sudah Baltas tunjukkan, mempengaruhi dinamika struktur internal sains.

Berbeda dengan Baltas yang lebih melihat sains dari pendekatan internal, tulisan ini berusaha melihat sains dari pendekatan eksternal yakni, seperti didefinisikan oleh Kuhn, sebuah pendekatan yang berpaku pada aktifitas ilmuwan sebagai bagian dari anggota masyarakat serta dari sebuah budaya yang lebih besar.

Tentang Netralitas

Jamak dipahami bahwa ilmu merupakan sebentuk pengetahuan yang penyusunannya tak bisa dilepaskan dari ilmuwan, objek kajian, standar ilmiah, dan konteks sosial. Di dalam ilmu-ilmu kealaman (natural sciences) hal terakhir tampaknya kurang begitu tampak karena secara umum ilmu-ilmu kealaman tidak memiliki kontak langsung dengan kehidupan sehari-hari. Ia seolah hanya berkutat pada fenomena alam yang “diam” diluar diri manusia.

Namun tesis Baltas menunjukkan sesuatu yang berbeda, setidaknya dalam ilmu fisika. Ia berhasil memetakan cukup jelas bahwa interpretasi terhadap konsep internal struktur ilmu tak dapat dipisahkan dari perspektif dan pengalaman-keseharian ilmuwan. Sehingga kemudian muncul pertanyaan: apakah dalam meneliti, ilmuwan adalah selalu orang yang netral? Sebuah pertanyaan yang jawabanya selalu memunculkan pertanyaan lanjutan.

Isu tentang netralitas ilmuwan memang bukanlah hal baru dalam perbincangan ilmu. Semenjak berabad-abad lalu, ia sudah merupakan polemik yang cukup pelik oleh karena kaitannya yang begitu erat dengan nilai (value) tertentu. Entah itu berasal dari agama, etika maupun estetika.

Hardiman (2003) menengarai bahwa pertarungan filsafat Barat, semenjak dahulu, selalu berkutat antara yang bernilai (mitos) dan yang rasional (logos); yang fiktif dan yang objektif. Distingsi (yang seringkali seolah seperti dikotomi) itu terbungkus dalam sebuah struktur naratif yang dalam diskursus filsafat amat sulit dipatahkan. Tak pernah ada yang bertahan mengungguli, ataupun punah, secara keseluruhan. Selalu saja menyisakan jejak-jejak yang siap meletupkan amunisi baru setiap saat, menggoyahkan lawan diskursusnya (p. 171).

Barangkali itulah sebabnya semenjak abad 17, para ilmuwan segera menyatakan ‘selamat tinggal’ terhadap nilai. Ia kumandangkan agama “netralitas” dalam pengetahuan ilmiah sebagai bagian dari keutamaan (virtue) objektifitas. Cita-cita ini muncul, awalnya, sebagai bentuk penolakan ilmuwan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan agama, sebagaimana yang sempat ramai dalam peristiwa Galileo atau, yang agak belakangan, Teori Evolusi Harun Yahya.

Tetapi kini tantangan terhadap netralitas ilmu muncul bukan lagi dari agama, melainkan dari kepentingan politik. Seperti semakin maraknya penelitian yang bekerja dibawah kontrol negara, juga semakin tingginya peran politik dalam rangka memasyarakatkan produk ilmu-ilmu eksakta berupa teknologi. Kaum Marxis, misalnya, lebih bersikap akomodatif dalam menyikapi relasi netralitas ilmu dan politik ini dengan menyatakan, “(tampaknya) kini tak cukup realistis andaikata pencarian ilmu dilepaskan dari konsekuensi politik dan sebab-musababnya” (Ziman, 1984: 191). Pandangan ini memang sebuah pemakluman, seperti yang biasa mereka lakukan, bahwa setiap realitas terasa tak afdlol jika tidak dikaitkan dengan politik. Berbeda dengan kaum feminisme yang mencoba melihat ilmu yang berkembang kini sebagai bagian dari politik maskulin. Terdapat anggapan bahwa objek ilmu, selaiknya perempuan, seolah inferior yang hanya ilmuwan sajalah yang berhak mengintiminya. Entah pendapat ini sebatas kecemburuan kaum feminis atau indikasi yang lain, kenyataannya, dalam sejarah teori maupun ilmuwan sendiri, sedikit sekali yang menggunakan istilah-istilah berkonotasi feminis sebagai term-term dalam sains. Demikian seterusnya, pandangan tentang netralitas ilmu hingga kini masih bergulir dan cenderung nyenggol-nyenggol (atau disenggol-senggolkan) ke wilayah ideologi-ideologi politik.

Netralitas (Yang) Relatif

Terlepas dari beberapa pendapat diatas, saya melihat bahwa polarisasi kepentingan politik terhadap ilmu kini muncul dari segala penjuru. Tak hanya dalam ilmu-ilmu kealaman, namun juga, (apalagi) dalam ilmu-ilmu sosial.

Gejala ini tentu semakin menyulitkan bagaimana objektifitas ilmu kemudian akan didefinisikan. Netralitas ilmu untuk (menjaga) objektifitas ilmu, seperti yang sudah diklaim oleh kerajaan sains abad 17, tampaknya kini semakin sulit diketemukan mengingat berbagai macam kepentingan politik—baik dalam pengertiannya yang praktis maupun yang lentur—sedikit banyak turut terlibat dalam kawasan internal ilmu, sebagaimana diterangkan oleh Baltas diatas. Dengan demikian, netralitas ilmu itu sendiri sesungguhnya boleh dikatakan “relatif” jika ditilik dari kepentingan politik (dalam dua pengertiannya itu).

Pun demikian, setidaknya saya ingin menawarkan model netralitas yang berbeda dari beberapa pendapat diatas. Yakni konsep “netral” sebagai makna atas tiadanya—meminjam Merton—disinteretedness terhadap proses reproduksi ilmu. Disinteretedness, menurut Merton, mengandung arti tiadanya kepentingan personal dalam kaitan menerima atau menolak sebuah gagasan (Ziman, 1984: 85). Originalitas gagasan adalah diatas segala-galanya dan karena itu hadirnya asumsi diluar kepentingan (yang bisa meruntuhkan originalitas gagasan) ilmu, mesti ditolak.

Ketika Baltas menunujukkan infiltrasi “asumsi” ideologis pada struktur internal ilmu maka ia menegaskan ada kemenduaan status pada “asumsi” (bertandakutip). Pertama, karena esensinya pada interpretasi yang secara penuh berpartisipasi dalam permainan internal tiga unsur utama fisika (sistem konseptual fisika, prosedur eksperimen, dan objek ilmu fisika); kedua, mengijinkan kita merangkai konsep dan relasi struktur term-term sistem konseptual fisika sesuai dengan pengalaman kita (p.141-2).

Pertanyaannya, apakah dalam merangkai konsep dan relasi struktur term konseptual ilmu itu, ilmuwan sungguh-sungguh terbebas dari disinteretedness?

Jika mengutip pendapat Baltas, tentu jawabannya adalah tidak bebas dari kepentingan. Tetap selalu ada kepentingan yang turut serta terlibat dari eksternal ilmu. Bahkan, sebuah ideologi begitu kuasa memainkan peranan berarti, sampai-sampai, Baltas menyebutnya sebagai bentuk kebohongan jurisdiksi pada permainan struktur internal.

Jika memang demikian, apakah hal itu berpengaruh terhadap originalitas ilmu? Tentu tak mudah menjawab pertanyaan ini. Misalnya, dalam sebuah pembuktian Teori Evolusi Harun Yahya, jelas sekali termuat rembesan sebuah kepentingan (agama). Tak ada jaminan terhadap originalitas karena Yahya seolah melakukan “penyimpulan mendadak” yang seluruh kesimpulan itu diarahkan pada keniscayaan kebesaran suatu agama tertentu (Islam). Yang amat mungkin, justru penelitian Yahya mengalami “penelikungan” proses penelitian supaya mencapai target kesimpulan “sesuai harapan”. Jika demikian, barangkali netralitas—dalam arti: tiadanya kepentingan selain untuk kemajuan ilmu—merupakan sebuah barang langka dalam proses penelitian.

Akhirnya pemahaman terhadap netralitas ilmu harus sampai pada titik simpul bahwa tidak ada yang sungguh-sungguh netral dalam proses mengetahui. Ilmu berkembang tidak dari ruang kosong. “Pengetahuan ilmiah”, seperti dipercaya Stephen Weldon, “tidak semata-mata otonomi berdasarkan prinsip universal-rasionalitas, tetapi secara langsung terkait dengan konstruksi sosial” (2002: 375). Konstruksi sosial ini merupakan proses reproduksi sosial yang secara simultan merupakan proses pembentukan nilai-nilai yang, seperti Baltas tunjukkan, turut memasuki kawasan struktur internal ilmu sebagai “asumsi” ideologis dan cukup siginifikan mempengaruhi netralitas ilmu.***

~ Moch Najib Yuliantoro

Categories: esai-esai

A Salt of Physics’s Earth

August 7, 2009 · Leave a Comment

Sedikitnya terdapat dua pendekatan setiap akan menelisik sejarah teori ilmu fisika, yakni dari sudut internal dan eksternal. Kedua pendekatan itu, satu sama lain, secara simultan saling bertautan, membentuk stuktur teori dalam ilmu fisika dan selalu tak mudah dipisahkan.

Baltas Aristides (1986), dalam artikel berjudul “Ideological “Assumptions” in Physics: Social Determinations of Internal Structures”, berpendapat demikian sesudah sebelumnya ragu dan tak cukup puas dengan pendekatan Sneed-Stegmuller yang hanya berkonsentrasi pada sejarah internal struktur teori fisika. Baltas kemudian menawarkan pendekatan Althusserian untuk selebihnya menunjukkan bahwa proses pembentukan struktur internal teori fisika, pada kenyataannya tak sepenuhnya terbebas dari sesuatu yang bersifat eksternal.

***

Baltas membuka diskusinya dengan terlebih dahulu mengutip Kuhn terkait maksud dari dua pendekatan tersebut. Menurut Kuhn, seperti dikutip Baltas, “pendekatan internal berpaku pada substansi ilmu fisika sebagai pengetahuan…(sedangkan) pendekatan eksternal berjibaku pada aktifitas ilmuwan sebagai bagian dari anggota masyarakat serta dari sebuah budaya yang lebih besar” (p.132).

Sayangnya, menurut Baltas, Kuhn tak menjelaskan lebih lanjut bagaimana karakter kedua pendekatan itu bekerja. Kuhn hanya berhenti pada kesadaran bahwa kedua pendekatan itu tak sepenuhnya mampu menjelaskan apa yang benar-benar terjadi dalam ilmu. Sehingga, untuk memuluskan diskusinya tentang struktur internal, Baltas akhirnya mesti bekerja lebih keras, mencoba menjelaskan maksud kalimat Kuhn, “substansi ilmu fisika sebagai pengetahuan (substance of Physics as knowladge)”, dengan tafsirannya sendiri.

Dalam tafsir Baltas, substansi ilmu fisika adalah yang secara kognitif-ilmiah berisi kumpulan fenomena. Terdapat tiga unsur utama di dalamnya: sistem konseptual fisika (sistem konsep dan relasi yang membentuk teori fisika; pergeseran definitif dari natunal phenomena ke physical phenomena); prosedur eksperimen (usaha untuk menguji pernyataan dalam sistem konseptual dengan fenomena); dan objek ilmu fisika (fenomena yang dikonstruksi oleh sistem konseptual fisika dan distrukturisasikan oleh prosedur eksperimen).

Ketiga unsur tersebut, dalam struktur fisika, saling mengonstitusi, menyusun interkonstitusi dan interrelasi melalui sebuah proses yang unik. Dari sini kemudian muncul suatu dinamika internal, self-developability, konsep baru, serta relasi baru diantara konsep-konsep. Interkonstitusi dan interrelasi itu membentuk fungsi-fungsi epistemik yang secara berkelanjutan cukup bermanfaat bagi pengembangan ilmu. Proses kebertautan tiga unsur itu merangkaikan sebuah permainan internal fisika dan akhirnya kemudian mengantarkan Baltas pada pengertian “the structure and the development of Physics as a science” sebagai tafsir atas “substance of Physics as knowladge” Kuhn (p.136).

***

Barangkali dari uraian dan proses kebertautan tiga unsur internal tersebut, seakan tiada sesuatu yang menunjukkan adanya intervensi eksternal ke dalam permainan struktur internal. Proses itu seakan bersifat otonom dari sumbangan eksternal.

Tetapi, tafsir “the structure and the development of Physics as a science” Baltas atas “substance of Physics as knowladge” Kuhn, ternyata, tidak mengindikasikan demikian. Ia menemukan bahwa proses strukturisasi dan pengembangan fisika sebagai ilmu secara ekslusif justru terbatasi oleh interrelasi dan interkonstitusi ketiga unsur tersebut.

Proses itu tak sepenuhnya bersifat otonom tetapi relatif otonom. Baltas mencurigai adanya intervensi eksternal, berupa proses sosial-praktis, ke dalam internal fisika melalui pintu interpretasi sistem konseptual fisika. Interpretasi sistem konseptual fisika selalu tak dapat dipisahkan dari rangkaian pengalaman, bahasa sehari-hari dan cara pandang ilmuwan. Ketika proses sosial-praktis (practical social process) secara partikular melakukan proses reproduksi sosial maka itu adalah saat dimana intervensi eksternal memasuki kawasan internal melalui interpretasi sistem konseptual fisika.

Baltas menganalisis kemungkinan itu melalui perspektif Althusser berupa “lingkaran ideologis” antara ideologi praktis dan ideologi teoritis. Menurut Althusser, sebagaimana ditulis Baltas, “pengalaman kita selalu merupakan sebuah fungsi bagi kemasyarakatan-sosial yang karenanya, pengalaman kita secara sosial, terbatasi olehnya” (p.137). Kemasyarakatan-sosial, dengan demikian, membatasi ide, gagasan, dan teori yang hendak kita salurkan ke sejumlah pengetahuan—dalam bahasa Althusserian, proses interplay antara praktik dan teoritis ini disebut “ideologi”—sehingga kemudian dikenal istilah ideologi praktis dan ideologi teoritis yang saling berkelindan dalam lingkaran ideologis.

Ideologi praktis merupakan pengerucutan dari proses sosial-praktis yang meliputi perjumpaan berbagai sikap, gerak-langkah dan tingkah laku yang kemudian membentuk gagasan, potret, dan representasi sosial. Fenomena yang terjadi dalam proses sosial praktis merupakan sesuatu yang secara sosial disenangi dan dikesani. Sehingga secara partikular, ideologi praktis ini seringkali berbeda-beda dan seringkali memunculkan harmoni dan konflik. Dan justru melalui konflik dan harmoni itulah proses reproduksi sosial berlangsung.

Sementara pembentukan ideologi praktis terus berlangsung bersamaan dengan proses reproduksi sosial, ideologi teoritis berusaha menyistematisasikan realitas tersebut melalui sebab-musabab (reasons) dan eksplanasi. Reasons dan eksplanasi ideologi praktis tersalurkan, membentuk informasi dan berkonsolidasi terhadap (serta kemudian menjadi sebuah) common sense.

Konflik dan harmoni proses reproduksi sosial merupakan hasil dari perjuangan sosial, perjuangan ideologi, perjuangan common sense. Ketika kemudian terjadi proses interpretasi sistem konseptual fisika maka, secara simultan, ia merupakan bagian dari proses reproduksi sosial. Hal ini, kata Baltas, sulit dibantah karena lingkaran ideologi Althusserian menunjukkan adanya kaitan yang begitu kuat antara reproduksi praktis dengan reproduksi teoritis—yang kemudian oleh Baltas disebut dengan “asumsi” ideologis.

***

Baltas sengaja memberi tanda kutip pada kata “asumsi” karena ketidaktegasan istilah ini. Ia memiliki dua status yang sama-sama nyaman di kawasan struktur internal: pertama, karena esensinya pada interpretasi yang secara penuh berpartisipasi dalam permainan internal tiga unsur utama fisika; kedua, mengijinkan kita merangkai konsep dan relasi struktur term-term sistem konseptual fisika sesuai dengan pengalaman kita—di tahap ini, ideologi memainkan peranan cukup signifikan; Baltas menyebut alasan kedua ini sebagai bentuk kebohongan jurisdiksi pada permainan struktur internal (p.139; 141-2).

Sebagaimana disebutkan, “asumsi” (bertanda kutip) bertengger pada upaya interpretasi kita terhadap sistem konseptual fisika. Dengan demikian, proses interpretasi itu secara ideologis tak sepenuhnya bisa lepas dari struktur pengalaman yang kita miliki saat ini. Entah ia tampak terang atau terpendam, lokal maupun global.

“Asumsi” (bertanda kutip) ideologis yang menginterpretasikan sistem konseptual fisika terbatasi oleh sosialitas yang, seperti disebutkan di awal tulisan ini, turut membatasi pula pengalaman manusia. Dari sudut self-evidently, “asumsi” ideologis memang tampak absurd dan karena ia semata-mata berupa sense maka ia tak dapat dikonsepsikan secara tegas, tak bisa ditematisasikan secara ilmiah, permainan dan konsekuensinya tak dapat dijelaskan, serta negasi interplay di dalamnya tak dapat dijustifikasi. Ia hanya mungkin dipahami sebatas sebagai sebuah interplay yang turut melegislasi (mengatur) dan hanya sebatas ideologi yang persisnya secara ilmiah tak memiliki alasan, irrasional, imajiner, dan barangkali meta-“asumsi”.

Sekalipun “asumsi” ideologi tampak bernada negatif karena sudah membatasi internal sistem konseptual fisika, namun menurut Baltas, tetap tersisa sisi positifnya yakni pemakluman menggunakan sense di kawasan internal sistem konseptual fisika. Jika menggunakan istilah rangkaian perubahan paradigma Kuhn, proses masuknya sense (berbau ideologis) ini tepat di saat normal science yang merupakan proses reproduksi teoritis (serta sosial).

Justru melalui “asumsi” ideologis ini kelak akan membuka kemungkinan penyingkapan, solusi dan dinamika internal ketika, dalam istilah Kuhn, terjadi anomali-anomali lalu kemudian krisis—sekalipun secara ilmiah, sekali lagi, hal itu cukup sulit dijelaskan. Ketika terjadi krisis pada struktur internal, maka kelenturan (karena ketidaktegasan) konsep “asumsi” ideologis, menurut Baltas, justru memudahkan struktur internal melakukan reinterpretasi dan resolusi sehingga melahirkan apa yang Kuhn sebut sebagai extraordinary science. Dari sini, lalu muncul keadaan normal kembali pada ketiga unsur struktur internal serta muncul sistem konseptual baru (semacam new paradigm).

Berdasarkan sejumlah pertimbangan diatas, Baltas akhirnya percaya bahwa “asumsi” ideologis tak selalu bernada buruk bagi struktur internal ilmu. Di saat krisis, seperti sudah terjelaskan diatas, “asumsi” ideologis diam-diam menunjukkan fungsi positif, progresif dan reaksioner. Keterbukaan “asumsi” ideologis itu justru merupakan indikasi dan faktor paling meyakinkan bagi perkembangan ilmu fisika di masa mendatang.

Pasalnya, bagi Baltas, perkembangan ilmu fisika tersusun dari dua relasi berharga antara sistem konseptual fisika yang berlaku saat ini dan teori fisika masa lampau yang dalam perkembangannya telah disingkirkan oleh teori kekinian. Tetapi apabila teori kekinian kemudian menganggap teori lampau sebagai sesuatu yang terdiskualifikasi dari sebutan ilmiah, maka hal itu, tulis Baltas, adalah sebentuk sikap ideologis—karena disana ada proses pengarakterisasian (characterization) (p.147).

Memang selalu tak mudah menggugurkan suatu teori sekalipun ia sudah lampau dan berbeda dengan teori kekinian. Pembedaan antara teori lampau dan teori kekinian hanya merupakan sebentuk diskriminasi antara teori yang ‘berhak’ ilmiah dan teori yang tidak ‘berhak’ilmiah.

Akhirnya kita tiba pada dua kesimpulan penting bahwa jika (a) sistem konseptual fisika kekinian nyata terbukti terbatasi oleh standar ilmiahnya sendiri dan jika (b) dijelaskan bahwa teori fisika ilmiah beserta objektifitasnya berhubungan dengan gambaran dunia eksternal—yang kemudian perlu memerbincangkannya dengan realisme, relativisme, dan konstruksivisme—, maka barangkali keputusan itu ibarat memasukkan burung pada sangkar yang salah.

Tentunya tak berlebihan bilamana kemudian Baltas mengibaratkan “asumsi” ideologis dalam struktur ilmu itu bagaikan garam bagi dunia fisika (salt of physics’s earth). Secara ilmiah, ia memang tak dapat dijelaskan, namun pada kenyataannya, di saat krisis, ia begitu berperan. Jika meminjam ungkapan senada, garam adalah sebuah entitas yang tak terkonsepsikan namun tak mudah pula begitu saja disambillalukan.

***

Sumber tulisan:
Aristides Baltas, “Ideological “Assumptions” in Physics: Social Determinations of Internal Structures”, PSA (Proceedings of the Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association), Volume II: Symposia and Invited Papers, 1986, The University of Chicago Press, hlm. 130-151

—naskah resensi ini, dengan segala kekurangannya, saya dedikasikan untuk guru saya, Bapak Sindung Tjahyadi^^

~Moch Najib Yuliantoro

Categories: esai-esai