Sedikitnya terdapat dua pendekatan setiap akan menelisik sejarah teori ilmu fisika, yakni dari sudut internal dan eksternal. Kedua pendekatan itu, satu sama lain, secara simultan saling bertautan, membentuk stuktur teori dalam ilmu fisika dan selalu tak mudah dipisahkan.
Baltas Aristides (1986), dalam artikel berjudul “Ideological “Assumptions” in Physics: Social Determinations of Internal Structures”, berpendapat demikian sesudah sebelumnya ragu dan tak cukup puas dengan pendekatan Sneed-Stegmuller yang hanya berkonsentrasi pada sejarah internal struktur teori fisika. Baltas kemudian menawarkan pendekatan Althusserian untuk selebihnya menunjukkan bahwa proses pembentukan struktur internal teori fisika, pada kenyataannya tak sepenuhnya terbebas dari sesuatu yang bersifat eksternal.
***
Baltas membuka diskusinya dengan terlebih dahulu mengutip Kuhn terkait maksud dari dua pendekatan tersebut. Menurut Kuhn, seperti dikutip Baltas, “pendekatan internal berpaku pada substansi ilmu fisika sebagai pengetahuan…(sedangkan) pendekatan eksternal berjibaku pada aktifitas ilmuwan sebagai bagian dari anggota masyarakat serta dari sebuah budaya yang lebih besar” (p.132).
Sayangnya, menurut Baltas, Kuhn tak menjelaskan lebih lanjut bagaimana karakter kedua pendekatan itu bekerja. Kuhn hanya berhenti pada kesadaran bahwa kedua pendekatan itu tak sepenuhnya mampu menjelaskan apa yang benar-benar terjadi dalam ilmu. Sehingga, untuk memuluskan diskusinya tentang struktur internal, Baltas akhirnya mesti bekerja lebih keras, mencoba menjelaskan maksud kalimat Kuhn, “substansi ilmu fisika sebagai pengetahuan (substance of Physics as knowladge)”, dengan tafsirannya sendiri.
Dalam tafsir Baltas, substansi ilmu fisika adalah yang secara kognitif-ilmiah berisi kumpulan fenomena. Terdapat tiga unsur utama di dalamnya: sistem konseptual fisika (sistem konsep dan relasi yang membentuk teori fisika; pergeseran definitif dari natunal phenomena ke physical phenomena); prosedur eksperimen (usaha untuk menguji pernyataan dalam sistem konseptual dengan fenomena); dan objek ilmu fisika (fenomena yang dikonstruksi oleh sistem konseptual fisika dan distrukturisasikan oleh prosedur eksperimen).
Ketiga unsur tersebut, dalam struktur fisika, saling mengonstitusi, menyusun interkonstitusi dan interrelasi melalui sebuah proses yang unik. Dari sini kemudian muncul suatu dinamika internal, self-developability, konsep baru, serta relasi baru diantara konsep-konsep. Interkonstitusi dan interrelasi itu membentuk fungsi-fungsi epistemik yang secara berkelanjutan cukup bermanfaat bagi pengembangan ilmu. Proses kebertautan tiga unsur itu merangkaikan sebuah permainan internal fisika dan akhirnya kemudian mengantarkan Baltas pada pengertian “the structure and the development of Physics as a science” sebagai tafsir atas “substance of Physics as knowladge” Kuhn (p.136).
***
Barangkali dari uraian dan proses kebertautan tiga unsur internal tersebut, seakan tiada sesuatu yang menunjukkan adanya intervensi eksternal ke dalam permainan struktur internal. Proses itu seakan bersifat otonom dari sumbangan eksternal.
Tetapi, tafsir “the structure and the development of Physics as a science” Baltas atas “substance of Physics as knowladge” Kuhn, ternyata, tidak mengindikasikan demikian. Ia menemukan bahwa proses strukturisasi dan pengembangan fisika sebagai ilmu secara ekslusif justru terbatasi oleh interrelasi dan interkonstitusi ketiga unsur tersebut.
Proses itu tak sepenuhnya bersifat otonom tetapi relatif otonom. Baltas mencurigai adanya intervensi eksternal, berupa proses sosial-praktis, ke dalam internal fisika melalui pintu interpretasi sistem konseptual fisika. Interpretasi sistem konseptual fisika selalu tak dapat dipisahkan dari rangkaian pengalaman, bahasa sehari-hari dan cara pandang ilmuwan. Ketika proses sosial-praktis (practical social process) secara partikular melakukan proses reproduksi sosial maka itu adalah saat dimana intervensi eksternal memasuki kawasan internal melalui interpretasi sistem konseptual fisika.
Baltas menganalisis kemungkinan itu melalui perspektif Althusser berupa “lingkaran ideologis” antara ideologi praktis dan ideologi teoritis. Menurut Althusser, sebagaimana ditulis Baltas, “pengalaman kita selalu merupakan sebuah fungsi bagi kemasyarakatan-sosial yang karenanya, pengalaman kita secara sosial, terbatasi olehnya” (p.137). Kemasyarakatan-sosial, dengan demikian, membatasi ide, gagasan, dan teori yang hendak kita salurkan ke sejumlah pengetahuan—dalam bahasa Althusserian, proses interplay antara praktik dan teoritis ini disebut “ideologi”—sehingga kemudian dikenal istilah ideologi praktis dan ideologi teoritis yang saling berkelindan dalam lingkaran ideologis.
Ideologi praktis merupakan pengerucutan dari proses sosial-praktis yang meliputi perjumpaan berbagai sikap, gerak-langkah dan tingkah laku yang kemudian membentuk gagasan, potret, dan representasi sosial. Fenomena yang terjadi dalam proses sosial praktis merupakan sesuatu yang secara sosial disenangi dan dikesani. Sehingga secara partikular, ideologi praktis ini seringkali berbeda-beda dan seringkali memunculkan harmoni dan konflik. Dan justru melalui konflik dan harmoni itulah proses reproduksi sosial berlangsung.
Sementara pembentukan ideologi praktis terus berlangsung bersamaan dengan proses reproduksi sosial, ideologi teoritis berusaha menyistematisasikan realitas tersebut melalui sebab-musabab (reasons) dan eksplanasi. Reasons dan eksplanasi ideologi praktis tersalurkan, membentuk informasi dan berkonsolidasi terhadap (serta kemudian menjadi sebuah) common sense.
Konflik dan harmoni proses reproduksi sosial merupakan hasil dari perjuangan sosial, perjuangan ideologi, perjuangan common sense. Ketika kemudian terjadi proses interpretasi sistem konseptual fisika maka, secara simultan, ia merupakan bagian dari proses reproduksi sosial. Hal ini, kata Baltas, sulit dibantah karena lingkaran ideologi Althusserian menunjukkan adanya kaitan yang begitu kuat antara reproduksi praktis dengan reproduksi teoritis—yang kemudian oleh Baltas disebut dengan “asumsi” ideologis.
***
Baltas sengaja memberi tanda kutip pada kata “asumsi” karena ketidaktegasan istilah ini. Ia memiliki dua status yang sama-sama nyaman di kawasan struktur internal: pertama, karena esensinya pada interpretasi yang secara penuh berpartisipasi dalam permainan internal tiga unsur utama fisika; kedua, mengijinkan kita merangkai konsep dan relasi struktur term-term sistem konseptual fisika sesuai dengan pengalaman kita—di tahap ini, ideologi memainkan peranan cukup signifikan; Baltas menyebut alasan kedua ini sebagai bentuk kebohongan jurisdiksi pada permainan struktur internal (p.139; 141-2).
Sebagaimana disebutkan, “asumsi” (bertanda kutip) bertengger pada upaya interpretasi kita terhadap sistem konseptual fisika. Dengan demikian, proses interpretasi itu secara ideologis tak sepenuhnya bisa lepas dari struktur pengalaman yang kita miliki saat ini. Entah ia tampak terang atau terpendam, lokal maupun global.
“Asumsi” (bertanda kutip) ideologis yang menginterpretasikan sistem konseptual fisika terbatasi oleh sosialitas yang, seperti disebutkan di awal tulisan ini, turut membatasi pula pengalaman manusia. Dari sudut self-evidently, “asumsi” ideologis memang tampak absurd dan karena ia semata-mata berupa sense maka ia tak dapat dikonsepsikan secara tegas, tak bisa ditematisasikan secara ilmiah, permainan dan konsekuensinya tak dapat dijelaskan, serta negasi interplay di dalamnya tak dapat dijustifikasi. Ia hanya mungkin dipahami sebatas sebagai sebuah interplay yang turut melegislasi (mengatur) dan hanya sebatas ideologi yang persisnya secara ilmiah tak memiliki alasan, irrasional, imajiner, dan barangkali meta-“asumsi”.
Sekalipun “asumsi” ideologi tampak bernada negatif karena sudah membatasi internal sistem konseptual fisika, namun menurut Baltas, tetap tersisa sisi positifnya yakni pemakluman menggunakan sense di kawasan internal sistem konseptual fisika. Jika menggunakan istilah rangkaian perubahan paradigma Kuhn, proses masuknya sense (berbau ideologis) ini tepat di saat normal science yang merupakan proses reproduksi teoritis (serta sosial).
Justru melalui “asumsi” ideologis ini kelak akan membuka kemungkinan penyingkapan, solusi dan dinamika internal ketika, dalam istilah Kuhn, terjadi anomali-anomali lalu kemudian krisis—sekalipun secara ilmiah, sekali lagi, hal itu cukup sulit dijelaskan. Ketika terjadi krisis pada struktur internal, maka kelenturan (karena ketidaktegasan) konsep “asumsi” ideologis, menurut Baltas, justru memudahkan struktur internal melakukan reinterpretasi dan resolusi sehingga melahirkan apa yang Kuhn sebut sebagai extraordinary science. Dari sini, lalu muncul keadaan normal kembali pada ketiga unsur struktur internal serta muncul sistem konseptual baru (semacam new paradigm).
Berdasarkan sejumlah pertimbangan diatas, Baltas akhirnya percaya bahwa “asumsi” ideologis tak selalu bernada buruk bagi struktur internal ilmu. Di saat krisis, seperti sudah terjelaskan diatas, “asumsi” ideologis diam-diam menunjukkan fungsi positif, progresif dan reaksioner. Keterbukaan “asumsi” ideologis itu justru merupakan indikasi dan faktor paling meyakinkan bagi perkembangan ilmu fisika di masa mendatang.
Pasalnya, bagi Baltas, perkembangan ilmu fisika tersusun dari dua relasi berharga antara sistem konseptual fisika yang berlaku saat ini dan teori fisika masa lampau yang dalam perkembangannya telah disingkirkan oleh teori kekinian. Tetapi apabila teori kekinian kemudian menganggap teori lampau sebagai sesuatu yang terdiskualifikasi dari sebutan ilmiah, maka hal itu, tulis Baltas, adalah sebentuk sikap ideologis—karena disana ada proses pengarakterisasian (characterization) (p.147).
Memang selalu tak mudah menggugurkan suatu teori sekalipun ia sudah lampau dan berbeda dengan teori kekinian. Pembedaan antara teori lampau dan teori kekinian hanya merupakan sebentuk diskriminasi antara teori yang ‘berhak’ ilmiah dan teori yang tidak ‘berhak’ilmiah.
Akhirnya kita tiba pada dua kesimpulan penting bahwa jika (a) sistem konseptual fisika kekinian nyata terbukti terbatasi oleh standar ilmiahnya sendiri dan jika (b) dijelaskan bahwa teori fisika ilmiah beserta objektifitasnya berhubungan dengan gambaran dunia eksternal—yang kemudian perlu memerbincangkannya dengan realisme, relativisme, dan konstruksivisme—, maka barangkali keputusan itu ibarat memasukkan burung pada sangkar yang salah.
Tentunya tak berlebihan bilamana kemudian Baltas mengibaratkan “asumsi” ideologis dalam struktur ilmu itu bagaikan garam bagi dunia fisika (salt of physics’s earth). Secara ilmiah, ia memang tak dapat dijelaskan, namun pada kenyataannya, di saat krisis, ia begitu berperan. Jika meminjam ungkapan senada, garam adalah sebuah entitas yang tak terkonsepsikan namun tak mudah pula begitu saja disambillalukan.
***
Sumber tulisan:
Aristides Baltas, “Ideological “Assumptions” in Physics: Social Determinations of Internal Structures”, PSA (Proceedings of the Biennial Meeting of the Philosophy of Science Association), Volume II: Symposia and Invited Papers, 1986, The University of Chicago Press, hlm. 130-151
—naskah resensi ini, dengan segala kekurangannya, saya dedikasikan untuk guru saya, Bapak Sindung Tjahyadi^^
~Moch Najib Yuliantoro