for my Dream…
Aku membayangkan sebuah cita-cita terpancang di sana, di kejauhan, nun jauh di mato. Ku genggam erat-erat, meretasi belain payah, airmata, darah. Ku ukir, sedikit demi sedikit, penuh hati-hati. Ku korbankan banyak kesempatan yang, orang bilang diriku terlalu gegabah, sebab sudah meninggalkannya. Apalah arti sebuah kesempatan yang, kata orang, emas itu, jika diriku tak tertarik setitik pun terhadapnya?
Toreh perjuanganku ada di dalam tulisan. bagaimana agar orang-orang di sekitarku, tahu tentangku, bukan dariku, tetapi dari karyaku. Ini adalah prinsip. Persoalannya, kini aku tengah terberangus oleh ‘cara’ itu sendiri. Mengapa menulispun rasanya tak bertenaga? tak greget? Diriku terbuai oleh potongan-potongan kehidupan, yang saat ia kualami, betapa diriku tersiksa setengah hidup. Dari ukuran idealitas yang kuamini, potongan-potongan itu tentu saja adalah kewaguan. Buang-buang tenaga saja. Tak terkecuali, waktu.
Lantas, akan seperti apa kelak, diriku? Aku sungguh begitu capek memayahi diri seperti ini. Capek luar biasa. Apakah pertarungan ini masih saja terus berlanjut? Pertanyaan bodoh rasanya. Sebodoh orang yang menuliskannya di sini. Aku bagaikan orang bodoh—“bagaikan”, bukan maksudku, pembelaan—di tengah limpahan pengetahuan di sana-sini.
Jerman, kukira, memberiku jawaban atas keingintahuanku selama ini. Ternyata, tidak. Justru kebodohan diri sajalah yang aku temukan begitu kerapnya di sana. Untaian mutiara yang pernah kucicipi sebelumnya, kini lebur sudah, luruh meluruhi kesejatian diriku: yaitu keakutan akan keterbatasan diri. Jikapun pikiran sudah tepat, maka pelaksanaannya yang mbleset—itulah, kata sahabat Minke, kekeliruan, tidak kesalahan. Aku ingin menyudahi semua ini untuk memulai [kembali] cita-cita yang dahulu tertunda. Seorang diri, di atas kaki sendiri.
6 Agustus 2009; 3.25 am
September 11, 2009 at 7:46 am
pesanku. tetap berhati-hatilah. jalan dikegelapan tanpa senter itu tidak mudah. selamat menerobos kegelapan untuk mendapatkan pencerahan yang lebih cerah.
September 11, 2009 at 10:37 am
Terima kasih kawan.
“Senter” macam apa yang kau maksud itu?
September 25, 2009 at 10:33 am
salut. mantap tulisannya bro..
prinsip yg patut diteladani..
October 20, 2009 at 12:18 pm
mas, ada apa dengan dirimu?? apa sesungguhnya yang engkau cari???