Aide-mémoire

Something The Lord Made

April 18, 2009 · Leave a Comment

Persis seperti film berbasis true story lainnya, film Something the Lord Made pula memberi suntikan semangat untuk selalu bersikap disisterestedness (bebas kepentingan), menjaga originalitas, dan tak mudah percaya (skeptis, atau bisa dibaca: coriusity) terhadap setiap hal kecuali memiliki bukti yang kemudian memunculkan rasa faith pada tujuan hidup, sekalipun bukti tersebut tidak harus bersifat empiris.

Dr. Alfred Blalock (1899-1964, diperankan secara apik oleh Alan Rickman), memulai terobosan penelitiannya, pada mulanya, berbekal dari dua hal: faith dan skeptis. Ia tak percaya terhadap paradigama medis waktu itu, bahwa penyakit “bayi biru” tak bisa disembuhkan. Begitu pula dengan dr. Vivien Thomas (1910-1985, diperankan oleh Mos Def). Ia sengaja mendampingi Blalock hingga mesti meninggalkan rumahnya di Nashville, hijrah Hopkins, serta menanggalkan cita-cita masa kecilnya bersekolah kedokteran, juga berdasarkan faith disokong kepercayaan yang begitu besar dari majikannya: Blalock.

Tetapi kemudian, ketika Blalock berhasil meluruhkan paradigma lama medis, betapa sebuah komunitas ilmiah begitu penting peranannya. Peran utama komunitas ilmiah adalah sebagai pelegitimasi terhadap hasil penemuan ilmiah baru. Senada dengan pendapat Robert K. Merton (1910-2003), bahwa hasil riset bukan semata-mata untuk individu ilmuwan, melainkan didedikasikan bagi (dan milik) masyarakat dunia. Pemaknaan komunalisme Merton ini tak cukup berhenti di tataran legitimasi, penghargaan, pujian atau hak properti, tetapi harus dipahami lebih substantif, yakni sebagai media untuk menguji hasil penemuan tersebut, apakah dari sudut syarat-syarat ilmiah bisa disebut sukses atau tidak. Dari tolok ukur terakhir ini, peran Vivien tentu tak bisa diragukan. Ia adalah pendorong, inovator, dan pelaku utama operasi “pilot project” anjing yang sukses itu. Namun, dari sisi legitimasi properti, lebih dari 25 tahun, ia tak masuk hitungan dan tak diperhitungkan untuk ditampakkan sebagai “penemu” seperti Blalock, lantaran ia tak memiliki gelar “dokter”—sebuah gelar konsensus yang mesti disandang oleh peneliti bila berharap penemuannya dapat diakui oleh publik.

Hampir mirip tapi tak sama, dan berhimpitan dengan komunalisme, adalah universalisme. Kebenaran ilmiah mesti diindependenkan dari pengaruh politik, agama, ras, nasionalitas, dan gender. Atribut personal dan sosial sama sekali tidak memiliki relevansi dengan gagasan seseorang. Persis seperti tuturan hikmah dalam Islam: undlur ma qola wa la tandlur man qola (lihatlah pendapatnya, jangan lihat orangnya).

Dalam konteks universalisme ini, Vivien adalah seorang ilmuwan yang besar dalam masyarakat dan komunitas ilmiah yang masih menganggap kelas sosial warna kulit masih begitu penting untuk tidak diabaikan. Kita tentu masih ingat bagaimana, dalam film itu, diskriminasi kulit begitu terang ditampakkan. Untuk menyebut sebagian contoh: larangan bagi orang kulit hitam ikut masuk di ruang operasi, pemisahan ruang kamar mandi bagi kulit putih dan kulit berwarna, penghormatan wajib bagi orang kulit hitam kepada orang kulit putih saat berpapasan di jalan, pembedaan bank, ruang pertemuan, tempat sekolah dan lain sebagainya.

Yang paling kentara ialah saat Vivien semestinya ikut serta sebagai salah satu tim operasi yang dipotret media, dan diucapin “terimakasih” oleh Blalock di Hotel Belvedere, disamping karena ia tak punya gelar, juga akibat sebuah stigma sosial bahwa orang kulit hitam adalah tak jauh lebih terhormat dari orang kulit putih. Dalam pandangan Merton, asumsi semacam ini tidak bisa diberlakukan dalam komunitas ilmiah. Tak ada hak istimewa bagi ilmuwan yang berlatar belakang berbeda. Yang membedakan di antara mereka hanya satu hal: gagasan ide.

Yang menarik, meskipun kemudian Vivien amat kecewa dengan perlakuan tersebut, dan sempat mengundurkan diri dari asisten Blalock, namun ia tetap berteguh hati kembali mengabdikan dirinya di rumah sakit tersebut. Hal itu terpelantik bukan karena sosok Blalock atau gaji pekerjaan yang jauh lebih baik daripada gaji seorang sales obat, namun semata-mata menuruti ketulusan cipratan hati nuraninya bahwa “jantung kehidupan saya adalah laboratorium medis”. Bahkan ia lebih bangga mengabdikan dirinya di RS Johns Hopkins sebagai teknisi laboratorium daripada mengejar gelar dokter di kampus kulit hitam, Morgan College. Tak ada ambisi sedikitpun dari seorang Vivien selain mengabdikan diri, tulus sepenuh hati untuk kemajuan bidang kajian yang sangat ia gemari: medis.

Tiadanya kepentingan selain memajukan pengetahuan ini, oleh Merton disebut sebagai disinterestedness atau intelectual honesty (kelurusan hati, kejujuran intelektual). Penerimaan terhadap ide/pendapat seseorang mesti didasarkan pada kenyataan bahwa ide itu memang patut diterima. Bukan karena adanya sebuah tendensi kepentingan macam-macam. Pernyataan ini mematahkan sebuah tradisi buruk penelitian di Indonesia, yakni penelitian pesanan dan pragmatisme penelitian. Seharusnya, berapapun gajinya atau tanpa digaji pun, seorang ilmuwan mesti berkeinginan kuat hanya untuk mengembangkan keilmuwannya. Kadang saya merasa miris, kasihan, melihat beberapa ilmuwan idealis yang tulus memperjuangkan hidupnya untuk kemajuan ilmu yang ia tekuni, jatuh miskin, bahkan masih hidup di rumah kontrakan hingga papa. Tapi kemirisan itu tak ada guna bila kemudian negara, sebagai penaung para ilmuwan, tetap seperti ini: diam membungkam kata.

Dalam film ini, tentu Vivien mengalami pula hal serupa: ilmuwan besar yang hidup di rumah kontrakan. Gajinya tidak besar dan tak cukup membiayai kebutuhan kontrak rumahnya. Konon, hal yang sama terjadi pula pada seorang ilmuwan ekonomi Indonesia, Mohamad Hatta. Selain karena tekanan politik orde baru yang begitu kuat, di usia tua, Hatta sempat tak punya uang untuk sekedar menengok kampung halamannya di Sumatera. Uangnya hanya cukup untuk beli makan dan koran. Kendati pun hingga usia tua, Hatta tetap belajar, membaca, dan berkarya.

Hal lain yang juga terendus dalam film ini adalah originalitas. Blalock, meskipun terlihat arogan dan keras kepala, tetap menjaga dan mengembangkan originalitas ide yang ia miliki. Ia tak mau menuruti tradisi medis saat itu, dan berupaya menciptakan peraturan medis sendiri. Itu berarti Blalock juga cukup skeptis: tidak begitu percaya terhadap paradigma medis yang diimani saat itu. Tetapi saya sedikit ragu tentang originalitas Blalock ini saat sumbangan medis Vivien tak diakuinya di Hotel Belvedere. Barangkali apakah memang seperti itu karakter ilmuwan: arogan dan keras kepala.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan adalah bahwa film ini semakin meneguhkan teori Robert K Merton bahwa CUDOS: Communalism, Universalism, Disinterestedness, Originality dan Skeptisism — dalam sumber berbeda, dua istilah terakhir, dikumpulkan dalam satu istilah: Organized Skeptisism — adalah teori yang memang tergambar kuat dan demikian adanya dalam etos pengetahuan. Hanya saja, etos semacam ini barangkali hanya berlaku dalam ilmu (science) dan tidak di ranah agama—satu tradisi pengetahuan yang tak begitu menghargai originalitas ide manusia dan skeptisme. Benarkah demikian?

Categories: esai-esai

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment