Tujuan utama epistemologi adalah untuk menentukan kriteria, sumber, dan kebenaran suatu pengetahuan berdasarkan argumentasi rasional. Secara objektif manusia berusaha mencari tahu landasan dasar “mengapa, bagaimana, dan untuk apa, ia tahu”.
Karena manusia hidup tidak dalam keadaan ahistoris, maka kerja epistemologis seringkali terembesi oleh otoritas, bahasa, dan konsensus. Untuk hal terakhir, konsensus, tampak begitu terang dalam pengembangan pengetahuan ilmiah. Objektivitas, dalam pengetahuan ilmiah, dianggap sebagai pengetahuan yang benar karena (sekali lagi, dianggap) mendekati kebenaran. Bagi kaum skeptisme tentu akan memertanyakan anggapan tersebut. Benarkah demikian (:mendekati kebenaran)?
Selain pengetahuan ilmiah (science), di aras yang lain, muncul sumber pengetahuan yang sama-sama dianggap benar dan mendekati kebenaran, yakni agama/wahyu dan filsafat. Wahyu, melalui konsensus, diyakini memberi pemahaman lebih baik kepada manusia terhadap pertanyaan akan hal fisik melalui jawaban metafisik-spiritual, dan Yang-Adi-Kuasa melalui Tuhan dan Kitab. Sementara, filsafat, yang menurut penulis hanya merupakan metode radikal, terkadang dianggap pula sebagai pengetahuan, karena ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dari dua model pengetahuan yang lain (ilmu dan agama/wahyu).
Jadi, ketiga model pengetahuan tersebut bisa disebut sebagai satu bentuk metode pengetahuan untuk memahami dan mendekati “kebenaran”. Selain itu, dari ketiga model kebenaran tersebut, masing-masing cenderung menggunakan konsensus sebagai justifikasinya. Sekalipun barangkali secara kebahasaan masih bisa dimaklumi karena secara makna bisa dipahami, tapi lagi-lagi, secara makna pun, kebenaran kadang masih dijustifikasi melalui konsensus—pengecualian, filsafat.
Lantas, jika “kebenaran” didekati melalui metode yang berbeda, bukankah akan memunculkan model kebenaran yang berbeda pula? Padahal, penulis masih meyakini (faith) bahwa kebenaran absolut (absolutly truth) itu ada. Barangkali ia dianggap mustahil oleh sains karena tuntutan kebenaran sains memang mesti berupa hipotesis. Begitu pula, filsafat. Berbeda lagi dalam agama, yang masih percaya (juga, faith) pada kebenaran absolut, dan hanya dimiliki oleh pelindung agungnya: Tuhan.
Kebenaran absolut yang penulis maksud adalah, sebuah kebenaran yang tak perlu justifikasi apa-apa. Ia benar karena memang ia benar. Ketika suatu kebenaran, baru dianggap benar, hanya bila terdapat justifikasi—baik konsensus, bahasa, maupun otoritas—maka, menurut penulis, kebenaran semacam itu belum bisa dikategorikan sebagai kebenaran yang sesungguhnya. Jadi, kebenaran absolut tidak memiliki kriteria dan indikasi apa-apa? Ya, tidak ada. Ia tak terkatakan, tak terbahasakan. Lantas, sungguh adakah ia?
3 responses so far ↓
dlla // May 22, 2009 at 2:16 pm |
yo gak da
semua hanya klaim kebenaran
nek bicara tentang absolut
hanya kebenaran tentang penderitaan
hahaha
kid dab
sheethalp // May 23, 2009 at 4:08 am |
hh… informative ))
I.A. // July 9, 2009 at 12:53 pm |
kebenaran absolut? untuk apa jib? manusia, seperti makhluk hidup lainnya, tetap harus hidup dengan informasi (dan mungkin juga kebenaran) yang tidak pernah lengkap.