Aide-mémoire

Latah Soul

March 17, 2009 · 1 Comment

Saya ternganga menatap tulisan-tulisan yang soulnya berbeda-beda itu. Ada macam tulisan yang ketika membacanya soulnya begitu redup, diam, dan seolah dunia terasa pedih. Tulisan ini membuat mulut saya terbungkam sedemikian lama, bahkan hingga kini masih susah terbuka. Ada pula tulisan yang membuat hati saya riang, terang, tertawa. Tulisan ini mengalir begitu jauh hingga membuat saya tak sadar telah membacanya begitu banyak—biasanya tulisan-tulisan seni, terjemahan fotografi atau gaya-gaya kuliner mewakili soul ini.

Menulis memang tidak boleh selalu jadi epigon. Penulis, selaiknya penyair, sejogjanya menulis dengan menaati kejujuran. Jujur dalam gaya tulisannya dan jujur dalam isi tulisannya. Untuk jujur yang kedua ini, setidaknya isi itu muncul tidak dari hasil kreatifitas kejahatan lah, tapi perpaduan yang tetap menghargai komposisi perpaduan tersebut. Sederhananya, tidak copy-paste isi dan materi.

Gaya tulisan seseorang mungkin dipengaruhi, selain buku yang lebih dominan ia baca, juga suasana hati, gaya berpikir, dan gaya hidup penulisnya. Bagaimana penulis itu memandang dunia, perspektifnya seperti apa, gimana tindak-tinduk kesehariannya, itu beberapa catatan bagaimana soul tulisannya terbentuk.

Selama ini saya akui lebih sering mengikuti gaya-gaya tulisan orang lain. Gaya tulisan saya bisa dibilang, meminjam istilah Pak Slamet Sutrisno, suka latah. Kadang ingin seperti GM, SHG, MMA, MSMM, GD, gaya-gaya opini Kompas, dan sebentar lagi mungkin Pram (nunggu rambut panjang dulu, baru bisa baca Pram:-). Tapi sejujurnya saya ingin memiliki karakter tulisan sendiri, tanpa bayang-bayang siapapun. Seperti halnya menulis catatan harian, tulisan ala saya tentu tetap mengedepankan kenyamanan pembaca tanpa mengenyampingkan informasi yang begitu kaya di dalamnya *pokok-e full service*

Satu hal saya dapatkan dari perjalanan ini ialah bahwa spesialisasi satu gaya bacaan itu memiskinkan ternyata. Yang sebaiknya dilakukan tetap seperti ini: membaca banyak hal, menyerap soul penulisnya, lalu memadukannya dengan gaya kesenanganku sendiri. Saya rasa itu lebih adil. Di satu sisi, saya tidak berbuat kejahatan kepada penulis aslinya (menjiplak gaya tanpa ijin), di sisi lain, saya tidak tercerabut dari historisitas rasa dalam diri saya. Akhirnya yang menjadi masalah terbesar sebetulnya bukan karena saya tidak tahu tentang ini atau itu, tetapi semata-mata karena saya tidak mengetahui “secara pasti” tentang ini dan itu. Persis seperti Al-Gore dalam “An Inconvenient Truth” memantapkan diri menekuni isu global warming ketimbang dunia politik yang kadang tidak ia ketahui secara pasti jluntrungnya.

16 Maret 2009

Categories: krenteg

1 response so far ↓

  • Alfian Syafril // April 2, 2009 at 11:28 am | Reply

    kata Pram “menulis adalah bekerja untuk keabadian”,,
    hahaha..aku terlalu pramis jib, ra usah ditanggepin. menurutku ga ada yang nulis (sastra) sebaik Pram, aq terlalu memuja e jib, padahal yang lain juga baik. gitu lah kalo sudah “tidak adil sejak dalam pikiran”

    hah

Leave a Comment