“Scripta manent, verba volant”
— Yang tertulis akan abadi. Yang terucap akan sirna bersama hembusan angin
Pendahuluan
Kegiatan menulis, bagi sebagian orang, barangkali merupakan suatu aktifitas menjemukan dan membosankan. Tetapi untuk mereka yang sudah pernah merasakan nikmatnya menulis, mendengar pendapat seperti itu, tentu tidak sepenuhnya setuju. Bahkan, bagi tipe orang kedua ini, aktifitas menulis kadang justru dijadikan sebagai profesi, pemenuh keperluan ekonomi.
Yang jelas, menulis adalah sebuah proses kreatif. Untuk mendapatkannya tidak bisa dengan cara instan. Ia membutuhkan rangkaian aktifitas seperti membaca, merangkai kata, memilih diksi, niat menulis, dan intensitas.
Lebih dari itu, menulis adalah sebuah tanggung jawab intelektual dan investasi jangka panjang menuju karya abadi sesungguhnya. Karena itu, ia memerlukan integritas yang tinggi. Sebelum menulis di media masa atau penelitian, sebaikanya kita bertanya terlebih dahulu kepada diri sendiri, “untuk (si)apa tulisan ini?”. Jika niat sudah tertata dan gagasan sudah muncul, baru kita mulai menulis dengan jujur dan sepenuh hati. Jujur sejak dalam pikiran, kataku.
Menulis Opini di Koran: Sebuah Pengalaman Obsesif
Tahun 2005, saat saya mulai memasuki jenjang perguruan tinggi, niat untuk menulis di media massa baru muncul. Awalnya, keinginan untuk menulis itu disebabkan oleh sebuah obsesi, bahwa “sebagaimana mahasiswa yang lain, aku juga bisa menulis di media massa”. Memang pada waktu itu, rubrik koran yang sering saya baca hanya satu: Suara Mahasiswa.
Hampir setiap minggu selama dua bulan (September-Oktober 2005), saya menulis kira-kira dua halaman, spasi dua, untuk koran. Dan, alhamdulillah, tidak pernah jebol. Saya putus asa. Selepas itu, tidak mau lagi menulis untuk koran hampir dua tahun.
Tahun 2007, obsesi itu kembali muncul selepas seorang pengajar Filsafat Cina Modern-Kontemporer, penuh semangat menyeru kami, para mahasiswa: “jika tulisan kalian terpampang di koran, kalian terancam nilai A, tak perlu kuliah, tak perlu ujian!”.
Untuk mahasiswa peserta 16 kelas seperti saya, tentu tantangan dosen itu amat menggiurkan. Hanya dengan menunjukkan hasil tulisan dari koran, tak perlu kuliah, berhadiah nilai bagus. Tentu teman-teman akan berpikir sama, bukan?
Petir bersambut, hujan pun tiba. Saya (kembali) menulis. Kesana-kemari cari bahan. Dan, akhirnya, tulisan pertama di koran itu lahir. Harapan 16 kelas akan berkurang satu, menggerayangi tubuh pikiran saya. Senangnya tiada terkira: jaminan dapat A, tanpa kuliah.
Sekedar mengingatkan: jangan percaya pada dosen tersebut, Anda sedang ditipu!. Bagaimana tidak. Selepas saya berikan hasil tulisan itu, saya disuruh agar tetap mengikuti kuliah, mengerjakan tugas kelompok, dan mengikuti ujian. “Untuk memotivasi teman-temanmu yang lain”, katanya. Memang akhirnya saya tetap dapat nilai A, tetapi janji “jika berhasil nulis di koran, boleh tidak ikut kuliah” itu ternyata bohong belaka. Saya mangkel, kecewa berat, sakit hati.
Suatu ketika, dua semester berselang, saya mendapat surat e-mail berupa tulisan opini seorang teman. Disana tertulis pengantar, “(tolong) komentari”. Saya sedikit heran, kenapa ia mesti mengirimkannya pada saya. Pasalnya, sudah hampir dua semester saya tidak menulis di koran. Sekalipun pernah nulis di koran, itu pun cuma sekali, setelah itu tak lagi.
Sebagai seorang (calon) “filsuf”, saya coba merenung. Saya coba cari tahu kenapa pemuda itu memberikan tulisannya kepada saya untuk dikomentari. Tanpa saya tahu, tiba-tiba renungan saya melayang jauh pada pengalaman sakit hati, dua semester lalu. Saya teringat dosen tua itu dan tersadarkan oleh satu pengalaman, bahwa “menulis itu memang tidak mudah”. Pekerjaan menulis memerlukan motivasi dan perjuangan keras. Belakangan saya tahu, dan membenarkan lamunan saya, bahwa pemuda itu ternyata memang harus berjuang mati-matian untuk menembus koran ternama tersebut.
Untuk beliau, pengajar tua, pengibar semangat muda, saya persembahkan lagu “Terima kasih Guruku” dari AFI Yunior. Sekali lagi, terima kasih, Pak.
***
Intensitas
Satu pelajaran berharga selepas peristiwa tersebut adalah bahwa menulis itu perlu intensitas. Di sana terkandung kesungguhan, kualitas bacaan, ketepatan pilihan kata, kemurnian tujuan, dan kesabaran. Dalam menulis, kita perlu memiliki karakter, jangan melulu jadi epigon. Ritme semangat juga mesti dijaga. Tak jarang seorang penulis mesti mati muda karena tidak tekun menjaga intensitas.
Dalam konteks menulis opini di koran, intensitas itu amat penting—intensitas dalam hal apapun. Misalnya, intensitas memperhatikan momentum, aktualitas tulisan, pemetaan isu, orisinalitas gagasan, dan ketepatan memilih koran. Untuk hal terakhir ini, perlu saya tekankan sungguh begitu penting. Sebagus apapun tulisan kita, jika kita salah memilih koran, maka akibatnya akan sangat fatal: tulisan tidak termuat. Karena itu, seorang penulis opini (terutama bagi pemula) perlu memiliki kepekaan membaca idealisme masing-masing koran. Itu salah satu strategi agar ketika tulisan kita, dalam jangka waktu tertentu, tidak dimuat di koran tertentu, bisa langsung kita kirimkan ke koran lain.
Namun, jangan pernah berpikir, ketika tulisan kita tidak termuat di koran-koran tersebut, lantas kita menganggap tulisan kita buruk. Sama sekali, jangan. Yang perlu disadari, koran bukanlah penjustifikasi kualitas tulisan. Bisa jadi, sebuah koran enggan memuat tulisan kita karena terdapat perbedaan idealisme.
Di saat seperti itu, kita perlu menjaga intensitas semangat. Jangan sampai kejadian tersebut mematahkan proses menulis kita. Sadari saja, kita masih pemula, dan sedang berproses. Kegagalan itu hal wajar dalam proses. Tak perlu menyesali kegagalan masa lalu, tapi juga jangan pernah permisif untuk kegagalan di masa depan.
Yang terpenting, kalau ingin jadi penulis, kudu selalu intens menulis dan baca buku. Terutama buku-buku utama, ditulis oleh penulis (yang dianggap) berkualitas, serap isi buku itu sebanyak-banyaknya, lalu coba menulislah dengan gaya bahasa kita sendiri. Bakat itu 1 persen, kerja keras 99 persen. If there is will, there is way. Selalu jaga intensitas.
Integritas
Tak jarang, seorang penulis opini, karena barangkali terlalu obsesif, lantas kemudian mengabaikan integritas. Pengertian integritas ini adalah kemauan diri menjaga hati nurani dengan tetap bersikap jujur.
Salah satu contoh sikap tidak jujur dalam menulis — menulis apapun — adalah plagiasi. Bagi seorang intelektual sejati, apalagi akademisi, sikap semacan itu tentu tidak pernah termaafkan. Pengahargaan terhadap produk pemikiran adalah hal utama dalam tradisi pemikiran. Sebab, seorang pemikir seringkali menghabiskan banyak waktu sekadar untuk menghasilkan sebuah gagasan dan tulisan orisinal. Yang dihargai, dengan demikian, bukan semata-mata produk pemikiran itu sendiri, tetapi “proses” menghasilkan produk tersebut.
Selain plagiasi, sikap anti-integritas lainnya adalah soal pengiriman ke koran. Biasanya, sekali lagi karena obsesif, seorang penulis mengirimkan tulisan yang sama pada banyak koran secara bersamaan. Tentu ini merupakan salah satu ciri khas sikap baik untuk filsafat namun cukup buruk untuk koran: spekulasi. Jadi, sopan santun pengiriman tulisan di koran juga perlu kita perhatikan.
***
Akhirnya, belajar dari pengalaman, bahwa menjadi penulis konsisten itu tidak mudah. Hanya ketekunan dan kesabaran yang mampu menghalau segala kejenuhan dan kebuntuan. Jika Anda, bercita-cita menapaki dunia tulis-menulis, jangan bosan untuk senantiasa bersikap sebagai “pemula”. Selain itu, pegang kuat-kuat tiga kunci utama di atas: obsesi, intensitas, integritas, dan satu lagi: terus menulis.
~ makalah disampaikan pada “Workshop Jurnalistik: Pelatihan Kepenulisan Populer”, Fakultas Filsafat UGM, 7 Maret 2009 di Auditorium Fakulktas Filsafat UGM