Peristiwa bersejarah itu tiba. Usai gempita pemilihan yang panjang, presiden terpilih AS, Barrack Hussein Obama, akhirnya resmi dilantik menjadi presiden AS pada 20 Januari 2009. Ini adalah kali pertama pemilihan presiden AS yang menyedot perhatian dunia. Tak kurang dari dua juta manusia berjubel menghadiri upacara pelantikannya, dan tentu saja; euphoria dimana-mana. Karena tak hanya di Amerika, di sebagian besar negara-negara di dunia pun guyub merayakannya.
Mengapa sosok Obama meraup perhatian begitu besar dari seluruh rakyat Amerika dan masyarakat dunia? Juga, mengapa pula masyarakat dunia menaruh begitu harapan besar akan perbaikan dunia pada seorang presiden suatu negara, yang jelas-jelas bukan presiden mereka?
Tiga Keistimewaan Obama
Setidaknya ada tiga jawaban yang bisa diketengahkan untuk pertanyaan tersebut. Pertama, kepiawaiannya dalam meraih simpati publik. Obama lebih dari sekedar politisi. Kemampuannya menjadi seorang orator yang percaya diri, cerdas, menerobos, dan inspiratif, membuatnya menjadi terdepan. Ketegaran kepribadian itu juga disokong dengan kepandaian memproduksi jengkal kata dalam pidato-pidato politiknya. Tentu saja itu membuat para konstituennya terbius, terlebih Obama selalu mengedepankan isu-isu sensitif dalam semangat perubahan. Retorika yang indah, raut muka yang terang, didasari oleh kemampuan intelektual yang memadai, menyebabkan Obama termasuk salah satu orator terbaik dunia yang patut disegani.
Kedua, Obama datang dengan kelebihan latar belakang kehidupan. Yang tentunya lebih menjanjikan dibanding lawan politiknya. Karena disamping keturunan muslim dan kulit hitam, ia pernah tinggal di negara berkembang bersama orang-orang miskin (Indonesia, Kenya) dan memiliki karir politik cukup elegan. Ia juga tumbuh di kalangan intelektual-akademisi paling bermutu di Amerika. Perjalanan kehidupannya itu menyentuh titik-titik yang berkorelasi langsung dengan kalangan-kalangan utama penyokong negara. Tak heran (more…)


