Aide-mémoire

Entries from December 2008

Pelan, Pasti Sampai

December 24, 2008 · 2 Comments

Aku pelan-pelan pasti sampai

Aku pasti sampai pelan-pelan

Pelan-pelan aku pasti sampai

Pasti aku sampai pelan-pelan

Pelan-pelan pasti aku sampai

Aku pasti pelan-pelan sampai

Pasti pelan-pelan aku sampai

Pelan-pelan pasti sampai aku

Categories: krenteg

Masa Depan (Alumni) MA Al-Muslihun

December 24, 2008 · Leave a Comment

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu!”
Arai, Edensor

Mukaddimah: Awal Sebuah Kisah

Saat pertama kali menjatuhkan pilihan belajar di MA Al-Muslihun, bukan karena kemegahan gedung, jumlah siswa, apalagi kualitas sekolah yang saya lihat, akan tetapi karena MA Al-Muslihun adalah pilihan terakhir selepas sekian lama mencari sekolah yang bisa mengakomodasi ridlo orang tua saya. Jujur saja, saat itu, sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk sekolah di sini. Sebab, cita-cita saya semata-mata hanya ingin sekolah di SMA favorit, karena memang Danem (NUN) saya mencukupi untuk lolos seleksi di sekolah tesebut. Namun, apa boleh buat, karena darah Nahdliyin keluarga saya cukup kuat, atas tekanan orang tua, saya tidak diperkenankan menyentuh sekolah-sekolah diluar naungan Nahdlatul Ulama’, sekalipun ia sekolah Negeri. “Baiklah”, demikian pikir saya, “daripada gak sekolah sama sekali, mending sekolah disini (MAA) aja!”.

Jadi, alasan utama saya sekolah di MA Al-Muslihun adalah “ketimbang gak sekolah”. Alasan yang aneh, bukan? Tentu teman-teman bisa membayangkan, bagaimana konsentrasi belajar saya saat itu. Menyebalkan, tidak menarik, gak bergairah. Apa kata dunia, nanti!

Akhirnya, saya mulai mencari-cari kegiatan, diluar aktifitas kelas, agar saya tidak merasa jenuh dan bosan sekolah di sini. Kebetulan, saat itu ada kegiatan-kegiatan OSIS. Tetapi, entah kenapa, saya kurang begitu tertarik mengikuti aktifitas OSIS. Barangkali karena OSIS tidak cukup leluasa berkiprah bebas diluar lingkungan sekolah. Sementara, saya ingin sekali lepas dari aktifitas intern sekolah. Saya ingin bebas, sejenak mengibas-ibaskan sayap yang sedang bengkok, sembari membasuh mata kesedihan karena tidak boleh sekolah di SMA favorit. Sungguh memilukan.

Tercetuslah kemudian, bersama sahabat terbaik saya: Misbahus Surur dan atas dukungan guru tercanggih saya: Bapak Nur Qomaruddin, untuk mendirikan Komisariat IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) MA Al-Muslihun. Bersama organisasi ini, saya sering mengikuti aktifitas pelajar diluar lingkungan sekolah, baik di tingkat kabupaten hingga propinsi.

Bermula dari keterlibatan dalam IPNU ini, akhirnya saya mengetahui bahwa sekolah kita sedang mengalami krisis kepercayaan luar biasa. Bukan hanya orang tua yang kurang yakin dengan kualitas sekolah kita, namun para anak muda pun juga demikian. Sering sekali saya mendengar cerita dari sana-sini, bahwa sekolah kita adalah sekolah murahan, marginal (/pinggiran), dan buangan. Merah telinga saya, mendengar ocehan-ocehan seperti itu!

Sejak saat itu, saya jadi nyadar bahwa saya tak boleh lagi merasa jenuh, apalagi menelantarkan Al-Muslihun. Saya harus bangkit. Nama baik Al-Muslihun harus saya angkat setinggi-tingginya. Hingga lalu terpatri kuat dalam hati kecil saya: “Suatu saat, akan saya tunjukkan kepada mereka, bahwa siswa ‘likan-likun’ tidak seburuk yang mereka bayangkan!”. Semakin sering saya mendengar ocehan orang yang menohok sekolah ini, malah semakin memantabkan hati saya untuk terus belajar di sekolah kecil ini.

Akhirnya, melalui kekompakkan teman-teman di OSIS/IPNU, kita aktif berkomunikasi dengan beberapa teman OSIS (dan IPNU) sekolah-sekolah lain. Kita mengundang mereka untuk menghadiri acara-acara OSIS/IPNU. Dan, alhamdulillah, respon mereka positif. Kita juga kembali mendapat undangan dari mereka untuk menghadiri acara-acara di sekolah mereka. Komunikasi pelajar antar-sekolah terjalin dengan baik. Melalui aktifitas intensif semacam ini, kita bisa saling belajar banyak hal, mulai dari kehidupan organisasi, sekolah, pelajaran, soal remaja, hingga curhat-curhatan masalah pribadi. Mulai dari sini, saya menyadari, bahwa sebenarnya kita sejajar dengan mereka. Dalam banyak hal, kita sama dengan mereka. Salah besar, kalau kita harus merasa minder, malu, dan gak pede sekolah di sini. Karena, menurut pengalaman saya, kualitas berpikir pelajar Al-Muslihun dengan siswa-siswa di sekolah lain, tidak jauh berbeda. Bahkan, jika ada kemauan yang kuat, kita bisa menjadi lebih baik dari mereka.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Perjalanan membawa nama baik Al-Muslihun, belum usai. Saya mesti belajar keras agar bisa melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Sekali lagi, selain karena untuk memperdalam ilmu pengetahuan, tujuan saya saat itu semata-mata hanya untuk memberi semangat kepada teman-teman Al-Muslihun agar tidak patah belajar, sekaligus memberitahu masyarakat luas bahwa lulusan Al-Muslihun bisa bersaing di perguruan tinggi, sejajar bersama lulusan-lulusan SMA terbaik sekalipun. Alhamdulillah, selepas lulus dari Al-Muslihun, tahun 2005, saya diterima di UIN Sunan Kalijaga, bebas tes ujian masuk. Dan, di tahun berikutnya, saya lolos seleksi UM (Ujian Masuk) di Universitas Gadjah Mada.

Mempertajam Kualitas Diri

Perlu dipahami teman-temanku yang baik, cerita di atas, sengaja saya tulis agak panjang, bukan untuk “bangga-bangga-an” atau bertujuan menyombongkan diri. Tidak. Sama sekali, tidak. Akan tetapi, melalui rentetan sejarah yang saya alami ini, saya berharap teman-teman dapat mengambil hikmah bahwa eksistensi MA Al-Muslihun tidak bergantung kepada siapa-siapa, selain kepada kita sendiri: para “penghuni” sekolah ini.

Ketika orang mulai memertanyakan soal kualitas MA Al-Muslihun, maka yang berhak menjawab pertanyaan itu adalah kita. Bentuk jawabannya, tidak mesti dengan kata-kata, melainkan melalui prestasi dan kualitas akademik belajar kita. Menurut pengalaman saya, sebuah prestasi cemerlang tidak akan pernah tercapai tanpa kerja keras. Begitu pula, kualitas akademik tidak akan pernah terwujud tanpa kegigihan dalam belajar. Keduanya—prestasi dan kualitas akademik—harus berjalan serempak, bersama-sama, dan beriringan. Melalui dua pintu ini lah, prospek akademik alumni MA Al-Muslihun akan terbuka lebar menyambut di depan mata.

Untuk itu, mulai sekarang juga, kita perlu mempersiapkan diri agar tidak tergilas oleh perubahan global dan semakin pede menghadapi ketatnya persaingan akademik di pendidikan tinggi. Sedikitnya, ada empat kemampuan dasar yang harus kita penuhi sebagai seorang pembelajar sukses:

1. Bahasa Internasional (International Languge)

Penguasaan bahasa internasional, terutama Bahasa Inggris (BI), bersifat wajib. Pasalnya, hampir seluruh komunikasi global kini menggunakan BI. Jika teman-teman ingin belajar komputer, misalnya, tidak akan kalian temukan bahasa pemograman yang menggunakan Bahasa Indonesia. Hampir seluruhnya menggunakan BI.

Jika kita menengok lebih jauh, Indonesia sedikit tertinggal dari Singapura dan Malaysia, sebetulnya disebabkan oleh miskinnya penguasaan mayoritas masyarakat Indonesia terhadap BI. Sehingga, jika muncul kerjasama-kerjasama internasional, seperti pertukaran pelajar antar-negara (International Student Exchange Program), beasiswa pelajar berprestasi, pelatihan pemuda dan pelajar, hingga program sekolah gratis di luar negeri, maka hanya sedikit sekali orang Indonesia yang bisa memanfaatkannya. Hal itu disebabkan oleh lemahnya akses/jaringan—yang diakibatkan karena lemahnya penguasaan BI kita. Sehingga, banyak sekali program-program internasional yang sebetulnya amat menguntungkan bagi kita menjadi hilang sia-sia.

Jadi, jika teman-teman nanti ingin melanjutkan pendidikan perguruan tinggi, maka keterampilan ber-BI harus kalian kuasai mulai sekarang. Sebab, hampir seluruh buku pelajaran yang diajarkan di perguruan tinggi saat ini sudah berbasis BI, demikian pula dengan materi test ujian masuk perguruan tinggi. Keuntungan yang akan kita dapatkan jika bisa menguasai BI tentu banyak sekali. Diantaranya, kita bisa dengan mudah melakukan percakapan, berkenalan, dan berkomunikasi clearly and fluently dengan siapa saja di seluruh pelosok dunia. Bahkan, seorang TKI pun akan memperoleh bayaran lebih mahal karena kemampuan BI-nya meyakinkan.

2. Ilmu Pengetahuan (Science)

Ibarat sebuah mesin, ilmu pengetahuan (IP) adalah sistem, prinsip-prinsip, hukum-hukum, atau teori-teori yang menyebabkan mesin tersebut berjalan dengan baik. Sederhananya, IP adalah bagian dari sumber daya manusia yang harus dipenuhi jika ia ingin menjadi manusia yang berkualitas. Untuk itu, setiap pelajar harus mempunyai jiwa “pembelajar sukses”. Artinya, ia tidak jemu-jemu untuk mempelajari sesuatu yang belum dikuasainya, sampai benar-benar bisa. Ingat, segala sesuatu, akan mudah dilakukan, jika kita sudah mengetahui ilmunya, bukan? Untuk itu, dalam dunia sekolah, sebagai pelajar yang cerdas, kita harus sungguh-sungguh mengusai ilmu-ilmu yang sedang kita pelajari. Seluruh mata pelajaran yang tersedia, harus kita pahami dengan baik. Caranya, tentu saja, dengan gigih belajar!

Perlu dipahami, IP tidak bisa kita peroleh secara singkat. Untuk mendapatkannya, memerlukan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan butuh semangat yang tinggi. Cobalah untuk terus meningkatkan diri dengan cara memperkaya alternatif pembelajaran, seperti rajin membaca buku (bukan hanya buku pelajaran sekolah, namun juga surat kabar, artikel, dan buku-buku bermutu lainnya), tekun menulis, berdiskusi, serta mengikuti kegiatan-kegiatan berbasis ilmiah.
Jangan lupa, luangkan waktumu untuk membuat perencanaan belajar. Bahkan, jika perlu, buatlah rencana hidup (cita-cita) yang berorientasi jangka panjang. Sesudah itu, berkomitmen lah untuk menepatinya hingga berhasil. Tapi harus ingat, bahwa perencanaan memang penting, namun mengelola diri untuk tetap konsisten dengan rencana, jauh lebih penting. Jika cara ini sudah kamu lakukan dengan baik, insya Allah, alur perjalanan karirmu akan semakin lancar. Percayalah!

3. Ketrampilan Teknologi Informasi

Baru-baru ini, ada 4 pelajar Indonesia yang berhasil memenangkan kompetisi Imagine Cup di Paris, Prancis. Keempat pelajar itu berhasil menciptakan software (perangkat lunak) bernama Butterfly, yang berfungsi untuk membantu manusia menjaga lingkungan alam. Yang menarik, dalam audisi bergengsi ini, mereka mampu menyingkirkan lebih dari 100 negara kontestan, dan mendapat penghormatan untuk mengembangkan software penemuannya bersama para teknisi professional perusahaan Microsoft di India. Padahal, kita tahu, Microsoft adalah perusahaan software terkemuka di Amerika Serikat milik Bill Gates, yang manfaatnya sudah kita rasakan ketika membuat tulisan di komputer kantor Al-Muslihun.

Keberhasilan 4 pelajar Indonesia itu disebabkan karena mereka dengan sungguh-sungguh dan tekun mampu mengembangkan ketrampilan teknologi informasi. Sehingga, sebagai pelajar yang cerdas, sudah saatnya kita mengusai berbagai macam media informasi berbasis teknologi.

Hampir seluruh kehidupan sehari-hari kita saat ini dipengaruhi oleh media teknologi informasi. Coba bayangkan, bukankah hampir setiap orang kini sudah mempunyai TV, HP, dan komputer—berikut dengan tipe dan model yang terus berkembang? Apalagi sesudah munculnya media internet. Rasanya, dunia kini tampak semakin kecil. Sehingga, dalam waktu hampir bersamaan dan sekejap saja, kita bisa mengetahui sesuatu yang terjadi di pojok Afrika atau di sekitar kediaman Miss Universe yang baru terpilih dari Venezuela. Bahkan, melalui ketrampilan teknologi informasi pula, KPK berhasil meringkuh para koruptor dan politisi busuk.

Jadi, pelajar Al-Muslihun tidak boleh lagi gaptek (gagap teknologi) soal penggunaan teknologi informasi ini. Karena ia merupakan ketrampilan, maka cara pengusaannya, tentu harus sesering mungkin menggunakannya. Jika, misalnya, di sekolah tidak dipelajari, maka kita bisa belajar kepada teman atau siapa saja yang ahli di bidang ini. Atau, akan lebih baik, kalau teman-teman mau rajin membaca buku tentang IT (Informasi dan Teknologi).

Yang terpenting, bukan hanya trampil menggunakan teknologinya saja, namun kita juga mesti sering meng-update berita-informasi terkini agar tidak ketinggalan informasi alias tel-in (telat informasi). Tentu saja, informasi yang saya maksud disini, bukan melulu infotainment atau gossip terbaru seputar selebriti, namun informasi yang bermanfaat bagi masa depan dan pengembangan kualitas diri kita.

4. Jujur

Simak ilustrasi berikut:

Seorang anak yang duduk di kelas 3 SMP bercerita kepada ibunya, “Bu, teman-temanku tadi saat ujian Matematika saling mencontek”. Si Ibu bertanya, “Kamu tidak ikut mencotek kan?”. “Ya enggaklah (masa ya enggak donk!), kan sama saja membohongi diri sendiri”, jawab si Anak. “Apa maksudmu?”, tanya Ibu sedikit menyelidiki. “Ya, kalau mereka mendapat nilai baik, itu kan bukan karena kemampuan mereka sendiri, Bu?”, jawab si Anak bersemangat. “Oh, begitu toh…”, sahut Ibu tersenyum bangga.

Ilustrasi di atas mengajarkan kepada kita betapa pentingnya bersikap jujur. Kadang-kadang kita terjebak pada tujuan yang ingin kita capai sehingga dengan mudah menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan tersebut. Sebagai anak muda, kita harus jujur pada diri sendiri agar terhindar dari perasaan tidak nyaman karena dikuasai pikiran negatif. Kejujuran pada diri sendiri merupakan awal dari upaya berperilaku jujur pada orang lain.

Kejujuran tidak hanya terbatas dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam kehidupan akademik. Sebagai pelajar Al-Muslihun, teman-teman nanti akan terlibat dalam berbagai kegiatan akademik, seperti menulis makalah, membuat laporan penelitian, presentasi kelas, dan ujian sekolah. Untuk melakukan kegiatan akademik tersebut, teman-teman harus mentaati etika dan kaidah-kaidah yang di dalamnya menuntut kita berperilaku jujur. Satu hal yang sangat penting dalam mengungkapkan kejujuran adalah tidak menyakini orang lain (I’m OK – You are OK, atau win-win solution). Nyatakan kejujuran itu dengan sopan, to the point (tidak ada yang ditutup-tupi), sadar waktu, sadar situasi, dan kejujuran ekspresi wajah (berani menatap, tubuh tegap, dan tekanan suara tepat).

Penutup

Last but not least, sebagai penutup tulisan ini, saya ingin meyakinkan kepada teman-teman Al-Muslihun bahwa kita diberi anugerah oleh Allah SWT berupa otak, tenaga, kesempatan, dan waktu yang sama. Yang membedakan kita dengan orang lain, hanya “cara” mendapatkannya. Di seluruh dunia ini, kota bernama Jakarta cuma satu, akan tetapi jalan (cara) menuju kesana berupa-rupa. Demikian pula, dengan kita saat ini. Setiap orang boleh saja mempunyai impian yang sama. Setiap orang juga berhak bercita-cita yang sama. Namun, tak seorang pun bisa merampas kesempatan kita untuk meraihnya.

Mulai sekarang, beranilah bermimpi, buat perencanaan hidup yang matang. Sesudah itu, pegang kuat-kuat impian itu hingga benar-benar berhasil terwujud. Jangan lupa, hadapi masa depan dengan persiapan diri yang tepat, melalui empat kemampuan dasar diatas—pengusaan bahasa internasional, ilmu pengetahuan, ketrampilan teknologi informasi, dan sikap jujur. Jika persiapan ini sudah kamu lakukan, tak perlu ragu lagi, prospek dan peluang alumni MA Al-Muslihun untuk meraih prestasi dan belajar di perguruan tinggi sangat terbuka lebar menyambut kita. Merci beaucoup!

~ Ditulis oleh M. Najib Yuliantoro (dulu: Moch. Najib ZA); alumni MA Al-Muslihun, lulus tahun 2005; mantan Ketua OSIS/IPNU MA Al-Muslihun 2004; sedang belajar Hukum dan Politik Islam di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga; memperdalam filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Makalah ini disampaikan pada acara Masa Orientasi Siswa (MOS) Siswa Baru MA Al-Muslihun Kalidawir, Tulungagung, Jawa Timur, Tahun Ajaran 2008/2009, tanggal 17 Juli 2008.

Categories: esai-esai

Indonesia, Membaca, Kita

December 24, 2008 · Leave a Comment

Negara yang bermartabat adalah negara yang dihuni oleh orang-orang berpengetahuan. Indonesia, sebagai negara berpenduduk besar, memiliki peluang yang sama dengan negara lain untuk mengakses beragam pengetahuan. Hanya saja, yang membedakan kita dengan mereka adalah “kualitas” asupan pengetahuannya. Sehingga, bila kita hendak membicarakan kualitas pengetahuan itu, maka kita harus menengok seberapa besar perhatian masyarakat kita terhadap budaya membaca.

Adalah John Wood dalam bukunya Leaving Microsoft to Change The Word, tokoh literasi saat ini yang, dengan penuh kesadaran, memutuskan meninggalkan kemapanan di perusahaan Microsoft untuk bergabung dengan masyarakat dunia, membangun lebih dari 3.600 perpustakaan di Asia. Kisah ini bermula dari sebuah pengalaman memilukan saat ia menyaksikan sekolah terpencil yang tidak layak, tanpa buku sedikitpun, di tengah gunung Himalaya. Wood terpaku, pilu, berontak. Seketika itu pula, Wood bergegas pulang, mengumpulkan buku-buku, lalu mengirimkannya ke sekolah tersebut. Wood merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap nasib mereka, sebab selama ini ia terlalu sibuk membesarkan perusahaannya dan melupakan keadaan terpuruk di sekitarnya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Wood adalah, betapa sebuah buku sangatlah berharga bagi topangan kehidupan manusia. Masyarakat perlu membaca. Buku dan membaca adalah dua rangsangan terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, bila Indonesia bercita-cita melahirkan gagasan-gagasan cerdas dan berkualitas, maka membiasakan masyarakat bergelut dengan buku dan membaca adalah sebuah keniscayaan.

Kita perlu bersyukur ketika melihat data jumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Indonesia bergerak cepat dari angka 190 di tahun 1992, kini mencapai angka 5.400 di tahun 2007. Artinya, disini masyarakat kita sebetulnya amat haus dengan bahan bacaan. Masyarakat berhak memperoleh gizi pengetahuan yang cukup sebagai bagian dari proses membangun kualitas bangsa ini.

Tetapi sayang sekali, besarnya antusias masyarakat peneguk pengetahuan tersebut berbanding terbalik dengan perkembangan penerbitan judul buku di Indonesia. Coba bandingkan dengan negara-negara lain. Indonesia paling banter hanya mampu menerbitkan 5.000 judul buku per tahunnya. Tertinggal jauh dari Malaysia yang berhasil menerbitkan 15.000 judul per tahun dan Inggris 100.000 judul per tahun.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perhatian kita terhadap budaya membaca, menulis, dan menerbitkan buku, masih belum begitu kuat. Tentu saja, angka ini menunjuk pula pada kapasitas gagasan kita. Kita telah tercoreng sebagai bangsa miskin karena miskin akan gagasan. Oleh karena itu, kita perlu bersama-sama menggalakkan ”gerakan membaca” di masyarakat, supaya tercipta pribadi-pribadi Indonesia berpengetahuan cerdas dan berkualitas.

Kita perlu pula belajar keras bagaimana agar bisa menjadi bangsa yang berperadaban dan memiliki kekayaan pengetahuan berbasis literasi. Bukankah sejarah sudah menorehkan bahwa negara yang dikenang adalah negara yang kaya akan peninggalan literasinya? China, Yunani, dan Babylonia adalah segelintir contoh yang bisa kita gunakan sebagai bahan refleksi. Tentu kita tidak menginginkan nama ”Indonesia” kelak, seratus bahkan seribu tahun mendatang, sekedar kenangan kosong semata. Penulis yakin, kesempatan itu masih terbuka lebar bagi kita. Mari bersama-sama kita wujudkan tradisi membaca yang kuat di masyarakat, sebagai investasi strategis meningkatkan kualitas kehidupan bangsa Indonesia di masa mendatang.

— Terbit pertama kali di Kedaulatan Rakyat dengan judul “Indonesia dan Masyarakat Membaca”, 5 Januari 2009, kemudian 16 Januri 2009 di koran yang sama.

Categories: esai-esai