Aide-mémoire

Entries from November 2008

KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi

November 30, 2008 · 97 Comments

Mohon doa dari siapa saja, untuk beliau: Hadrotus Syaikh KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi. Saat ini kondisi fisik beliau tengah melemah. Dua tahun sudah beliau menderita sakit. Entahlah, tiba-tiba aku merasa takut kehilangan.

Pernah dulu membaca karya beliau, kitab sufi dua jilid berjudul Al-Muntakhobât. Begitu mendalam dan menukik beliau mendedah silang sengkarut urusan hati dan tingkah laku manusia. Melalui ketajaman hati, kedalaman dan keluasan pengetahuan—bahkan, konon beliau juga tekun membaca buku-buku filsafat—, pasal per pasal dalam kitab itu menghantarkanku pada kesejukan hakiki, dan menaruh perhatian serius terhadap râbithah al-qolbiŷah wa shilatu ar-rûhiŷah.

Dengar baik-baik dawuh beliau: ”kullu mâ yusydiluka ngani-Llâh, fahuwa dunyâ, wa kullu mâ yungînuka ngalaLlâh, fahuwa ukhrâ”. Kalimat singkat ini cukuplah membuatku memahami dengan baik tentang apa hakikat dunia dan akhirat dalam Islam. Semoga beliau lekas sehat, dan kembali memimpin dzikr wa al-manaqib bersama orang-orang yang hendak ber-khidmah.

Categories: krenteg

Sarjana, Lokomotif Perubahan?

November 27, 2008 · Leave a Comment

pre-school_graduation

Bulan November adalah bulan wisuda. Bulan dimana sarjana-sarjana baru lahir memenuhi deretan daftar pencari kerja di saat lowongan pekerjaan kian menyempit. Setidaknya hal tersebut terlihat di beberapa kampus besar di Yogyakarta. Persoalannya, bagaimana bila mereka tak kunjung memperoleh pekerjaan? Bukankah hal tersebut hanya akan memperkaya jumlah angka pengangguran penduduk dan selanjutnya akan menjadi beban Negara?

Seorang lulusan perguruan tinggi idealnya memang harus berani bertarung di lembah realitas membangun kualitas bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang ia miliki. Melalui intelektualitasnya, ia dibebani sebuah tanggung jawab moral untuk turut serta menajamkan visi-misi bangsa Indonesia. Tetapi, fenomena yang muncul, terkadang mereka justru menjadi beban masyarakat dan menambah “kepusingan” Negara, karena secara empiris, banyak sekali pengangguran tersamar berkedok intelektual.

Kita perlu menelaah lebih teliti mengapa pengangguran tersebut sampai terjadi, dan apa yan menyebabkan seolah-olah para lulusan perguruan tinggi terlihat gagap menghadapi lapangan kerja yang begitu ketat. Hal ini disebabkan oleh sebuah sistem pendidikan yang semenjak awal tidak mengarahkan mahasiswa menuju kepribadian pengusaha (pencipta usaha/wirausaha), tetapi sekedar memahamkan mahasiswa sebagai pekerja (buruh kerja) yang profesional.

Di tengah melimpahnya potensi-potensi tak tergali di bangsa ini, maka kreativitas dan inovasi yang bertumpu pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik adalah sebuah keniscayaan. Harus segera dihentikan proses-proses pendidikan melalui cara-cara yang instan. Segalanya butuh proses dan kerja keras. Adalah tugas mahasiswa mempersiapkan diri sebaik-baiknya guna kemudian mendampingi masyarakat tetap yakin pada cita-cita dan senantiasa bekerja keras pantang menyerah.

Dengan demikian, seorang (lulusan) mahasiswa harus cukup cerdas mensinergikan antara penguasaan sains dan teknologi yang ia miliki dengan jiwa kewirausahaan. Dengan cara inilah mereka bisa memacu potensi diri, serta membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran nasional dengan “menciptakan” lapangan pekerjaan alternatif bagi masyarakat. Jangan sampai lulusan pendidikan tinggi menghadapi keterkejutan budaya (cultural shock) hingga menimbulkan depresi di mana-mana.

Pasar kerja sendiri bahkan sering mengingatkan bahwa besarnya kegagalan psikotes umumnya bukan diakibatkan oleh buruknya nilai prestasi akademik pelamar, melainkan disebabkan miskinnya kemandirian para pelamar sehingga belum siap menghadapi dunia kerja yang sangat menuntut kemandirian dan kemampuan menempatkan diri dengan baik.

Kenyataan ini semestinya melecut perguruan tinggi untuk terus mensinergikan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik mahasiswa. Jangan sampai banyaknya hasil penelitian di perguruan tinggi itu ternyata tidak terasa manfaatnya bagi masyarakat luas. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan tersebut mesti kita arahkan untuk memperkaya potensi kemandirian perekonomian bangsa, bukan hanya bernilai akademis semata atau sekedar menyenangkan pemberi modal belaka.

Kendatipun karakteristik pendidikan kita masih jauh dari mutu ideal, sebagai lulusan perguruan tinggi, para sarjana tidak boleh menyerah. Melalui produk-produk yang dimiliki, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, maupun gagasan-gagasan futuristik, seorang sarjana harus mampu memberi pencerahan arah bertindak masyarakat untuk mencapai tujuan perubahan lebih progresif. Apapun tantangannya, lulusan perguruan tinggi tidak bisa melangkah mundur lagi, kembali ke masa lampau. Mereka harus menemukan solusi baru untuk mengatasi persoalan masa depan bangsa kita. Penulis yakin, kita belum kehabisan potensi untuk melakukan perbaikan. Sejarah telah memberikan sejumlah tugas khusus kepada mahasiswa untuk melakukan transformasi perubahan berjangkauan jauh ke depan. Sebuah tugas suci yang harus kita mulai sekarang juga, demi sebuah perubahan lebih baik.

— Terbit pertama kali di Kedaulatan Rakyat, 27 November 2008, dengan judul “Sarjana, Lokomotif Perubahan Bangsa?”

Categories: esai-esai

Hujan

November 12, 2008 · 2 Comments

“Mendung. Gelap lepas, datang hujan. Sinar terang berlarian. Rintik-rintik bercucuran. Gesang hilang, daun memerbak, tertawa-bercanda. Indahnya luar biasa.“ — 11 November 2008

Tik . Tik . Tik .

Bunyi . . hujan . Di atas genteng . . .

Air yang turun . . . tidak . . terkira . . .

Cobalah tengok, daun dan ranting

Ba . . . sah semua . . .

“Senandung lagu seorang Ibu kepada anak perempuannya di sebuah perjalanan bus kota sesaat selepas hujan mengguyur kami, para penumpang” — 5 November 2008

Categories: krenteg