Hari terakhir di Jogja. Selepas sholat jumat nanti aku pulang, mudik. Tak terasa, beberapa hari lagi lebaran tiba. Masa-masa ramadlan di Jogja, yang menurutku jadi “pesantren”-nya Jogja itu akan hilang. Ya, Jogjakarta adalah kota yang jika bukan bulan ramadlan, terasa begitu sesak, panas, dan banal. Ramadlan di Jogja ibarat hujan merintik-rintik di musim kemarau panjang. Seketika, ia menjadi sejuk, damai, dan religius. Saat kembali lagi ke kota ini, selepas lebaran nanti, masihkah semarak “pesantren-pesantren” kecil itu akan kutemukan lagi?
Jogjakarta memang kota mungil yang selalu mengundang pesona. Baru tiga tahun tinggal disini, tak terhingga sudah kenangan-kenangan seru tertancap dalam sejarahku. Diantara sekian banyak kenangan itu, hanya satu hal yang membuatku betah disini: perjumpaan dengan orang-orang cendekia. Itu saja. Aku mengenal tiga orang yang amat serius dalam hal ini. Tiga orang itu adalah tiga generasi genius. Pertama, seorang pendidik agak tua, penerjemah, dan terkenal sangat ajeg dalam hal apapun. Orang ini, sekalipun sedikit angkuh, adalah orang pertama kali yang menyihirku mencintai pengkajian Islam, filsafat, dan cita-cita menuntut ilmu tanpa batas. Kedua, pendidik muda yang keras kepala, kuat memegang prinsip, pendiam, dan lembut hati. Orang ini, dengan gayanya yang amat keras, telah membuatku merenung sejenak akan orientasi hidup, konsistensi, dan bagaimana menjadi pembelajar yang baik. Orang ini pulalah yang menyadarkanku bahwa hidup dan filsafat adalah dua permata yang sama-sama “keras”. Dua intan berlian yang tak gampang diraih jika tak dibarengi kesungguhan, komitmen, dan konsistensi. Aku masih ingat pesannya: “jangan berhenti sebelum kelihatan progress, le…”. Ketiga, penulis muda berbakat, brilian, tekun, dan santun. Pemuda ini mengajarkanku akan kedalaman, cara belajar, dan kesantunan hidup. Orang muda ini pula yang selalu memberiku energi baru setiap kali aku ambruk. Semangatnya yang luar biasa itu membuatku berani menegak-negakkan kepala untuk tidak menutup diri pada setiap kemungkinan. “Banyak ilmu itu nggak ada ruginya kok, Mas”, katanya. Tiga orang itu, dengan karakter khasnya masing-masing, hidup untuk meraih mimpi. Kehidupan mereka penuh pilu-heroik, berhasrat pada satu impian: ingin mencerap dan meneguk lezat ilmu sebanyak-banyaknya.
Berikutnya, perjumpaan dengan Andrea “Ikal” Hirata & Crew saat menonton pemutaran film perdana Laskar Pelangi di Bioskop 21 Ambarukmo Plaza kemarin, 25 September 2008, semakin menambah panjang halaman kisahku. Kurasa bukan kebetulan aku bertemu dengan mereka, terutama penulis buku itu. Tetapi cerita itu merupakan episode dari sebuah “perencanaan” oleh-Nya. Pernah terbesit dibenakku selepas membaca habis Laskar Pelangi beberapa bulan lalu, aku ingin pergi ke Belitong, hanya untuk bersalaman dengan Andrea. Tak lebih. Tapi rupanya Tuhan punya cerita lain.
Memilukan, sekaligus tragis memang, sejarah mereka. Hingga kapanpun akan kukenang selalu semangat dan ketangguhan mereka. Empat orang itu adalah orang-orang yang terlalu sering membangkitkan gairah ketergelitikanku pada kedalaman, ketulusan, dan hidup tanpa mengeluh. Di tengah kehidupan yang berisik ini, konsistensi pada satu prinsip hidup terasa jadi tantangan dan keniscayaan. Benar pula Andrea Hirata bilang: orang-orang seperti kita akan mati sia-sia jika tak punya mimpi. Kagum aku dibuat mereka berempat. Mereka adalah bagian dari out of the common itu rupanya.
Minal ‘aidlin wal faizin—mohon maaf atas segala khilaf. Semoga ramadlan mendatang berkenan menjumpai kita kembali. Amin…
26 September 2008
