Aide-mémoire

Entries from September 2008

…adieu, Ramadlan Djogja, adieu…

September 26, 2008 · 1 Comment

Hari terakhir di Jogja. Selepas sholat jumat nanti aku pulang, mudik. Tak terasa, beberapa hari lagi lebaran tiba. Masa-masa ramadlan di Jogja, yang menurutku jadi “pesantren”-nya Jogja itu akan hilang. Ya, Jogjakarta adalah kota yang jika bukan bulan ramadlan, terasa begitu sesak, panas, dan banal. Ramadlan di Jogja ibarat hujan merintik-rintik di musim kemarau panjang. Seketika, ia menjadi sejuk, damai, dan religius. Saat kembali lagi ke kota ini, selepas lebaran nanti, masihkah semarak “pesantren-pesantren” kecil itu akan kutemukan lagi?

Jogjakarta memang kota mungil yang selalu mengundang pesona. Baru tiga tahun tinggal disini, tak terhingga sudah kenangan-kenangan seru tertancap dalam sejarahku. Diantara sekian banyak kenangan itu, hanya satu hal yang membuatku betah disini: perjumpaan dengan orang-orang cendekia. Itu saja. Aku mengenal tiga orang yang amat serius dalam hal ini. Tiga orang itu adalah tiga generasi genius. Pertama, seorang pendidik agak tua, penerjemah, dan terkenal sangat ajeg dalam hal apapun. Orang ini, sekalipun sedikit angkuh, adalah orang pertama kali yang menyihirku mencintai pengkajian Islam, filsafat, dan cita-cita menuntut ilmu tanpa batas. Kedua, pendidik muda yang keras kepala, kuat memegang prinsip, pendiam, dan lembut hati. Orang ini, dengan gayanya yang amat keras, telah membuatku merenung sejenak akan orientasi hidup, konsistensi, dan bagaimana menjadi pembelajar yang baik. Orang ini pulalah yang menyadarkanku bahwa hidup dan filsafat adalah dua permata yang sama-sama “keras”. Dua intan berlian yang tak gampang diraih jika tak dibarengi kesungguhan, komitmen, dan konsistensi. Aku masih ingat pesannya: “jangan berhenti sebelum kelihatan progress, le…”. Ketiga, penulis muda berbakat, brilian, tekun, dan santun. Pemuda ini mengajarkanku akan kedalaman, cara belajar, dan kesantunan hidup. Orang muda ini pula yang selalu memberiku energi baru setiap kali aku ambruk. Semangatnya yang luar biasa itu membuatku berani menegak-negakkan kepala untuk tidak menutup diri pada setiap kemungkinan. “Banyak ilmu itu nggak ada ruginya kok, Mas”, katanya. Tiga orang itu, dengan karakter khasnya masing-masing, hidup untuk meraih mimpi. Kehidupan mereka penuh pilu-heroik, berhasrat pada satu impian: ingin mencerap dan meneguk lezat ilmu sebanyak-banyaknya.

Berikutnya, perjumpaan dengan Andrea “Ikal” Hirata & Crew saat menonton pemutaran film perdana Laskar Pelangi di Bioskop 21 Ambarukmo Plaza kemarin, 25 September 2008, semakin menambah panjang halaman kisahku. Kurasa bukan kebetulan aku bertemu dengan mereka, terutama penulis buku itu. Tetapi cerita itu merupakan episode dari sebuah “perencanaan” oleh-Nya. Pernah terbesit dibenakku selepas membaca habis Laskar Pelangi beberapa bulan lalu, aku ingin pergi ke Belitong, hanya untuk bersalaman dengan Andrea. Tak lebih. Tapi rupanya Tuhan punya cerita lain.

Memilukan, sekaligus tragis memang, sejarah mereka. Hingga kapanpun akan kukenang selalu semangat dan ketangguhan mereka. Empat orang itu adalah orang-orang yang terlalu sering membangkitkan gairah ketergelitikanku pada kedalaman, ketulusan, dan hidup tanpa mengeluh. Di tengah kehidupan yang berisik ini, konsistensi pada satu prinsip hidup terasa jadi tantangan dan keniscayaan. Benar pula Andrea Hirata bilang: orang-orang seperti kita akan mati sia-sia jika tak punya mimpi. Kagum aku dibuat mereka berempat. Mereka adalah bagian dari out of the common itu rupanya.

Minal ‘aidlin wal faizin—mohon maaf atas segala khilaf. Semoga ramadlan mendatang berkenan menjumpai kita kembali. Amin…

26 September 2008

Categories: esai-esai

Taklimat Film Laskar Pelangi

September 24, 2008 · Leave a Comment

Kawan-kawan,

Aku punya berita yang sangat seru. Sebenarnya dalam beberapa minggu terakhir ini aku telah diundang Miles Film untuk melihat preview film Laskar Pelangi, namun dengan berbagai alasan aku selalu menolak, karena aku ingin melihat film Laskar Pelangi secara utuh (usai mixing dan sebagainya). Dan akhirnya 22 September 2008 di Planet Hollywood Jakarta aku tonton film Laskar Pelangi dalam acara press, cast & crew screening.

Terus terang sebagai penulis Laskar Pelangi, setahun ini aku deg-degan dengan tekanan dari pembaca dan ekspektasi yang begitu besar dari kawan-kawan. Belum dibuat pun film Laskar Pelangi dibicarakan dimana-mana. Demikianlah proses setahun ini, baik bagiku sebagai novelis, Riri Reza, dan Mira Lesmana .

Kemudian aku pun masuk studio satu. Panitia yang baik Miles Film dan Mizan Production telah menyediakan tempat duduk VIP untukku, di deretan itu sengaja aku duduk sendirian tanpa siapapun di samping kanan kiri. Waktu layar mulai kelap-kelip. Akhirnya aku menyaksikan Film Laskar Pelangi untuk pertama kalinya.

Film dimulai dengan perjalanan Ikal dewasa ke kampungku. Dan taukah dirimu kawan, film itu berlangsung dua menit, dan air mata telah tergenang di pelupukku. Lalu kusaksikan frame demi frame, dengan perasaan yang tak kugambarkan dengan kata-kata. Aku larut, tenggelam, dan terombang-ambing cerita Laskar Pelangi dalam gambar-gambar yang sungguh menakjubkan. Aku adalah seorang penonton film yang akut. Aku memiliki koleksi lebih dari 2000 judul film, namun baru kali ini aku sesegukan, dan merasa sangat indah ketika menonton sebuah film. Kukatakan padamu kawan, jika engkau menemukan keindahan di setiap lembar novel Laskar Pelangi, engkau akan menemukan keindahan dalam setiap perpindahan gambar dalam film Laskar Pelangi. Bukan karena film ini diadaptasi dari novelku. Namun sejujurnya kukatakan padamu, kawan, bahwa film Laskar Pelangi adalah salah satu dari film yang paling mempesona yang pernah kusaksikan dalam hidupmu

Kawanmu selalu,

Andrea Hirata

Sumber: http://sastrabelitong.multiply.com

Categories: krenteg

Minoritas

September 5, 2008 · 3 Comments

Suatu malam, di kota senja, seorang pemuda diajak makan malam oleh kawanan orang berada. Tempat makan itu tidak biasa, dan tidak pula murahan. Sangat mewah baginya, karena harga rata-rata makanan diatas harga standar mahasiswa. Pemuda itu menghela nafas sejenak sembari menggumam, “Baik sekali, mereka”.

Menu makanan dihidangkan. Siapapun boleh memilih apa, dengan harga berapapun. Rata-rata, karena barangkali tradisi atau gengsi, mereka memilih makanan yang tidak biasa, dengan harga diatas rata-rata tentunya. Sementara, pemuda itu hanya memilih nasi terong, lauk tempe—makanan paling sederhana dari sekian menu pilihan, dan paling sederhana pula diantara pilihan kawan-kawannya. Tak ada alasan apa-apa, memilih makanan jenis itu, selain “suka”. Agaknya, makanan pilihan pemuda itu mendapat sindiran “lumayan menohok” dari salah satu kawannya, “Ya ampun, pemuda ini, ndeso banget sih! Dasar, selera rendah!”.

Meski tetap berusaha enjoy menikmati makanan itu, pemuda itu merasakan situasi tak jenak disana; marginal, terpinggir, terhina, sekaligus direndahkan.

Pelajaran berharga bagi kita. Betapa sakitnya menjadi kaum minoritas. Setali tiga uang ketika saya dirawat di Panti Rapih beberapa waktu lalu. Disana, saya adalah seorang muslim sendirian, di tengah mayoritas pasien dan perawat Nasrani. Keinginan dari pekat hati saya hanya satu: ingin tetap dihargai, sekalipun berbeda-beda. Untungnya, saya tak bernasib sesial pemuda itu. Saya memperoleh penghargaan sangat manusiawi disana.

Menjadi minoritas memang bukan sebuah kebetulan. Ia disebut demikian, karena adanya mayoritas. Dalam pembacaan ganda (double reading), minoritas sering disebut the others—sekumpulan makna yang jarang tersentuh oleh makna dominan. Ya, memang begitulah nasib kaum minoritas. Ia jarang terbaca, isi hatinya, oleh realitas. Superior mayoritas seringkali mengungkung minoritas, sehingga ia tak kuasa berkata tentang seharusnya.

Bangsa kita cukup puas terjebak pada sikap tak-memperhitungkan kaum sedikit ini. Coba lihat, bagaimana nasib mereka para Tionghoa tahun 1965 dan 1998. Ramai-ramai, mereka dijarah, dirusak, diperkosa, bahkan dibunuh, tanpa alasan. Tak ada keadilan bagi mereka, di negeri yang, katanya, berprinsip: “Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Amat susah, ternyata, melawan “lupa”, di negeri ini.

Demokrasi kita sepertinya juga berambisi meniadakan minoritas. Mengapa? Indikasinya, demokrasi Indonesia kini bermain tidak dalam kualitas, melainkan kuantitas. Coba, tengoklah pemilu langsung itu. Apakah yang menang berarti berkualitas? Ternyata tidak sepenuhnya, benar. Pemenang itu adalah kapitalis, oportunis, yang tak cukup tertarik dengan minoritas.

Kita, sebagai generasi Indonesia, kurasa lebih hina lagi, jika peristiwa yang dialami pemuda itu, tetap terulang dalam keseharian kita. Orang minoritas punya ruang dan dunia sendiri; ruang yang unik, khas, dan orisinal. Yang mereka butuhkan tak muluk-muluk, kecuali hanya penghormatan dan penghargaan. Tak ada hebatnya, kecongkakan superioritas itu tetap dilestarikan. Ia hanya akan menjadi justifikasi pada sikap yang penjajah, otoriter, dan angkuh.

– 05 September 2008, 05.29 pm

Categories: esai-esai