Aide-mémoire

Entries from August 2008

Mimpi-Mimpi Filsafat

August 28, 2008 · 3 Comments

Orang seringkali skeptis ketika mendengar istilah “Filsafat”. Ragam pendapat dilontarkan: menyesatkan, bikin orang gila, membingungkan, membosankan, prospek kerja tak jelas, buang-buang waktu, dan abstrak, kata mereka. Tapi ada juga yang berpendapat sebaliknya: kritis, mendalam, rasional, radikal, wisdom, dan macam-macam atribut canggih sejenisnya.

Silakan orang berpendapat apa. Tapi, bagi saya, filsafat adalah sebentuk “ilmu”—jika boleh disebut “ilmu”—yang cukup menggairahkan. Filsafat memberi seurat tanggung jawab kepada penganutnya supaya “tidak malas berpikir”. Ditengah aneka budaya serba instan, filsafat mengajarkan kepada manusia untuk tidak mudah terlena ke dalam hiruk pikuk tradisi “pemalasan” dan “pembodohan”. Manusia, karena ia adalah insan berpikir, senantiasa membutuhkan proses pergulatan pikir, mengasah kepekaan diri, melawan diri sendiri, serta melawan arus kegilaan zaman. Filsafat mendidik manusia agar berani melakukan semua aktifitas itu, aktifitas yang amat menguras energi intelektual tentu saja.

Segalanya mungkin, bagi filsafat. Karena filsafat seringkali bertolak dari ketiadaan, ketidakmungkinan, ex nihillo—sesuatu yang sering luput dari perhatian orang.

Kalau begitu, benar kata Louis O. Kattsoff: filsafat tidak membuat roti. Filsafat tidak pula membangun gedung megah, apalagi melahirkan teknisi kerja perkantoran. Filsafat tidak berminat meluluskan pengangguran-pengangguran intelektual. Filsafat hanya ingin membebaskan manusia dari segala bentuk kemapanan; segala sesuatu yang menumpulkan getar kreatif manusia.

Manusia hidup, selalu penuh persoalan. Bahkan, mati pun kadang masih membawa persoalan. Persoalan-persoalan itu tidak bisa kita artikulasikan ke dalam sikap pasrah tanpa melawan. Persoalan, pada hakikatnya adalah penindasan. Persoalan adalah sederet ketidakadilan alam terhadap dinamisasi kehidupan. Karena itu, ia harus kita lawan, ia harus kita dinamiskan kembali. Bukan malah lari dari persoalan! Ketika manusia mulai berani lari dari persoalan, maka ia ibarat raja hutan ditawan lawan: impotensi, lemah, dan pengecut. Saat persoalan-persoalan itu kian sering menghujam diri kita, di situlah proses “pendewasaan” itu menggelinding. Tak ada indahnya hidup di dunia ini jika tanpa dibarengi persoalan. Ya, persoalan, berarti “pendewasaan”; pendewasaan berpikir, bersikap, dan bertindak.

Berbekal belajar filsafat, saya mengimani, akan lahir perubahan karakter berpikir manusia dari tradisi parsial-temporal kepada tradisi kontekstual-futuristik. Barangkali ini semacam gumam mimpi seorang pecinta filsafat. Tapi justru bermula dari sana—mimpi, ketiadaan, ketidakmungkinan, ex nihillo—filsafat mengawali petualangannya.

“Bermimpilah”, kata Arai Edensor, “karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

— 28 Agustus 2008, 6.26 pm

Categories: esai-esai

Kotak Cokelat

August 1, 2008 · 10 Comments

Di kejauhan, ku pandang diam-diam sebuah kotak cokelat
Kata orang, di dalamnya ada jin jahat dan jin baik sedang mesra berselingkuh

Di kejauhan, ku lirik lagi sebuah kota cokelat
Kata orang, di dalamnya tertata martir-martir taat, tapi bodoh, berlari-lari, mengumpat, saling eksekusi

Di kejauhan, ku toleh sebuah kotak cokelat
Kata orang, di dalamnya berjibaku gincu-gincu ngawur “seniman prabu politik”, mengais-ais belas kasih suara wayang pinggiran

Di kejauhan, benar-benar ku saksikan sebuah kotak cokelat
Dan kupelototi sendiri, di dalamnya terpotret riuh orang kecil sedang susah cari makanan basi
Bocah-bocah mereka, perutnya buncit-buncit ketus karna jarang terisi gizi
Rambutnya lusuh, baunya menusuk, matanya kuyu, wajahnya lesu, dan senyumnya pun mahal

“Besok anak-anak makan apa, Pak?”, tanya ibu tua itu memelas suaminya

Masih ku lihat di kejauhan, sebuah kotak cokelat
Di dalamnya terbahak-bahak kencang juragan proletar
Asyik sekali, mereka memutar-mutar dadu dagang sapi itu
Di dadanya, terbentang menjorok ke bawah secarik dasi sutera berinisial BBM OK: PA!

“Benar-Benar Membela Orang Kecil: Pilihlah Aku!”

Paradoks itu datang padaku, masih dari “kata orang”
Masih di sebuah kotak cokelat…

– 22 Juli 2008, 01.57 am

Categories: krenteg