Kosong,
Mengapa Kosong?
Akankah Kosong?
Kosong,
Kosong,
dan Kosong,
…
– 7 Juli 2008, 00.00
Kosong,
Mengapa Kosong?
Akankah Kosong?
Kosong,
Kosong,
dan Kosong,
…
– 7 Juli 2008, 00.00
Categories: krenteg
Dalam senja kehidupan, tak pernah membawa kita pada keabadian. Semua musnah. Berakhir. Hilang. Tanpa sisa.
Dalam senja kehidupan, orang tercinta akan binasa.
Dalam senja kehidupan, selalu tak mudah menjalani kehidupan. Ada saja goda mengancam. Hati ini selalu tak kuasa tertunduk pada satu kepastian.
Dalam senja kehidupan, terpontang-panting dalam kekosongan. Bergelimang dalam sia-sia. Tak tersisa bekas berceceran.
Dalam senja kehidupan, tak ada tujuan, selain niscayanya hilang.
Dalam senja kehidupan, aku terdiam!
– 7 Juli 2008, 11.22 pm
Categories: krenteg
Perkembangan sastra, secara sosiologis, memang cukup menarik untuk kita ikuti. Pasalnya, fenomena sastra Indonesia cukup kaya akan persoalan-persoalan sosio-kultural yang menggurita, berjalin-kelindan mempengaruhi kekuatan karya dari masa ke masa.
Seorang Katrin Bandel, dalam suatu kesempatan, memberikan contoh yang baik dalam persoalan sosio-kultural sastra Indonesia. Ia katakan bahwa sebagian “sastrawan tua” masih menganggap bahwa sebuah karya dapat berbicara melalui dirinya sendiri. Goenawan Mohamad (GM), misalnya, kata Katrin, pernah mengatakan, “Karya sendiri yang akan berbicara, dan dengan sendirinya karya yang baik akan dihargai”. Adagium “Bersaing terus dengan karya”, bagi GM adalah kata kunci penting untuk menunjukkan sebuah karya bermutu atau tidak. Namun, tidak demikian bagi kaum “sastrawan muda”. Mereka seringkali mengambil jarak terhadap asumsi ini. Sebab, menurut mereka, eksistensi karya sastra dipengaruhi berbagai macam faktor, diantaranya: faktor sosiologis, relasi kekuasaan, dominasi akses, dan dominasi komunitas. Sehingga, adanya dominasi karya-karya tertentu, merupakan ekses dari pengaruh berbagai macam faktor tersebut, atau dalam bahasa Katrin disebut “politik sastra”.
Katrin mengatakan, bahwa Indonesia belum mempunyai kriteria yang jelas mengenai paramater kualitas sebuah karya. Tulisan yang dikirim ke sebuah Koran Besar, lalu kemudian ditolak misalnya, tentu tidak bisa disebut karya itu tidak berkualitas. Begitu pula sebaliknya, tulisan yang dimuat di Koran Besar atau Media Besar lainnya, tentu juga belum bisa dikatakan karya tersebut berkualitas. Namun sayangnya, stigma lumrah yang muncul di negeri ini tidak demikian. Sebuah tulisan dianggap berkualitas jika termuat di media-media besar, seperti Koran. Seakan-akan justifikasi kualitas karya sepenuhnya ditentukan oleh Koran. “Fenomena yang aneh”, kata Katrin.
Pasalnya, bagaimana ceritanya, sesuatu yang bernama “Koran” punya legitimasi yang cukup kuat dalam menentukan kualitas suatu karya. Kalau bukan karena adanya faktor sosio-kultural seperti di atas, tak mungkin suatu media mempunyai peran yang begitu dominan seperti ini. Jadi, adanya faktor sosio-kultural ini menegaskan bahwa kita tak bisa lagi menyebut bahwa ketika suatu karya “sering” dimuat di Koran, atau Media Besar lainnya, maka ia dikatakan berkualitas. Sebab, termuatnya suatu karya di Koran tertentu, terkadang lebih sering dipengaruhi oleh adanya akses yang baik antara penulis dengan pemegang otoritas media tersebut.
Fenomena semacam ini akhirnya memberi lecutan bagi kita untuk sering-sering menciptakan ruang baru, selain Koran, yang mampu menampung kreatifitas menulis kita. Terlepas dari segala keterbatasan yang kita miliki, kita bisa menciptakan ruang berkarya seperti mading, situs sastra, pengarsipan karya melalui antologi, hingga pembuatan blog semacam ini. Kelihatannya memang sepele, namun ikhtiar ini cukup baik untuk membantu melepaskan kulminasi berkarya kita yang belum sempat memperoleh apresiasi di ruang-ruang bergengsi, seperti Koran itu.
Ada banyak keuntungan, sebetulnya, yang bisa kita petik disana. Diantaranya, kita bisa mengolah dan mengasah kualitas tulisan kita. Kita juga bisa menciptakan kuil peradaban karya kita dan dengan bebas menorehkan goresan-goresan karya tanpa terpengaruh oleh idealisme manapun.
Walhasil, kita perlu sadar adanya politik sastra ini, agar tidak terus-terusan mengalami kelesuhan berkarya, dan lalu putus asa. Kita harus tetap menulis, menurut kejujuran idealisme yang kita yakini. Usaha ini hanyalah satu dari sekian banyak pilihan guna membesarkan hati kita, para penulis muda, agar tidak gampang berhenti berkarya. Jadi, apapun medianya, menunya harus tetap “menulis”.
– 7 Juli 2008
Categories: esai-esai