“Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan maka: percayalah,
jika engkau ingin menjadi murid kebenaran maka: carilah…”
– Nietzsche
Begitu berani petikan tulisan Nietzsche, pria calon pendeta, yang penuh perkasa melawan keyakinan zamannya atas kemapanan suatu kebenaran. Gaya filsafatnya penuh aforisme, menandakan bahwa ia tidak pernah mau tunduk pada ikatan apapun. Kebenaran, kata Nietszche, adalah kekeliruan, karena adanya kebenaran telah menuntun manusia seakan-akan tak bisa hidup dan hanyut dalam kelemahan.
Semangat pencarian Nietzsche mengakibatkan dirinya tak percaya lagi terhadap segala bentuk kepastian. Ia menafsirkan masa depan manusia lambat laun akan kehilangan jati dirinya karena runtuhnya dua landasan nilai utama: ilmu pengetahuan dan agama. Sebuah renungan tentang krisis kebudayaan, khususnya budaya Eropa. Ia melukiskan gerak budaya Eropa bagaikan aliran sungai yang menggeliat kuat saat mendekati bibir samudera. “Kebudayaan Eropa”, tulis Nietzsche, “sedang bergerak menuju suatu malapetaka, dengan tekanan yang tercabik yang meningkat dari tahun ke tahun, dengan gerakan-gerakan penuh kegelisahan, kekerasan dan… bagaikan aliran sungai yang tidak sanggup lagi merenungkan dirinya sendiri, yang takut merenungkan” (p 33). Sebab itu, Nietzsche menyebut zaman semacam ini sebagai Nihilisme.
Nihilisme mengantarkan manusia pada situasi kritis atau kepada hari yang menjadi “malam terus-menerus” karena seluruh kepastian hidupnya runtuh. Tidak ada lagi nilai absolutisme yang mampu dijadikan pegangan hidup dalam menyeberangi lautan tanpa batas. Jejak-jejak kepastian yang dulu jadi pijakan manusia, semuanya hilang, kosong, dan tak bersisa. Begitulah, manusia terus-menerus mengalami kekeringan nilai, spiritual, dan religiusitas.
Begitu nihilisme tiba menyelimuti sendi-sendi kehidupan manusia, kematian Tuhan, kata Nietszche, adalah keniscayaan. Prediksi ini mengacu pada runtuhnya segala bentuk kepastian dan segala sesuatu yang mengarah kepada absolutisme.
“Requiem Aeternam Deo!—Semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi”. Demikianlah kata terakhir yang hendak Nietzsche ucapkan untuk menyambut kematian Tuhan. “Gott ist tot! Und wir haben ihn getotet!—Tuhan sudah mati! Kita telah membunuhnya”. Bahkan model-model Tuhan, seperti sains, kemajuan, logika, sejarah, rasio, dan jaminan kepastian lain, juga ikut lenyap bersamaan lahirnya nihilisme.
Lalu, nilai apa yang bisa “mendamaikan” hidup manusia?
Tidak ada sama sekali, kata Nietzsche. Seluruhnya lenyap bertaburan tanpa sisa sedikitpun. Orang seolah-olah menghirup udara kosong. Kehidupan semakin hening dari segala sesuatu yang dianggap wajar, mapan, dan biasa. Tak ada lagi jejak absolutisme nilai dan kepastian yang membayang-bayangi kehidupan manusia. “Tuhan sudah mati!—Kita telah membunuhnya”.
Sesudah pandangan-pandangan absolutisme (atau yang mengarah ke absolutisme) coba Nietszche runtuhkan, ia berusaha mengajak dirinya dan orang-orang agar bangkit kembali, kembali bangun menghadapi keniscayaan kedatangan Nihilisme. Kita, tegas Nietszche, tidak boleh menyerah apalagi pasrah terhadap nihilisme. Kita harus menghadapinya. Kita harus berani berkata “Ya” kepada Nihilisme. Nietszche ingin meyakinkan bahwa, dengan berkata “Ya” pada Nihilisme, manusia akan memiliki kemampuan untuk tetap bertahan dalam nafas kehidupan tanpa “tekanan” absolutisme.
Penghapusan jejak absolutisme tidak usah disesalkan karena itu memang suatu keharusan yang mesti dihadapi manusia. Manusia tidak bisa lagi mendasarkan dirinya pada angan-angan kosong, asumsi-asumsi kepastian, dan pandangan akan absolutisme. Sebab, akibat kepercayaan semacam inilah, manusia dekaden—mundur dan runtuhnya semangat hidup pribadi maupun bangsa—menegaskan dirinya.
Lantas, bagaimana cara kita mengatasi Nihilisme?
Mengatasi Nihilisme, tutur Nietszche, bukan dengan sikap “diam”, karena diam menandakan sikap yang tidak netral. Diam setali tiga uang dengan membiarkan diri didekte oleh keadaan nihilistik dan krisis terus menerus—Nihilisme pasif, begitu Nietszche menyebutnya. Akan tetapi, solusi mengatasi Nihilisme adalah hanya dan hanya melalui jalan Nihilisme aktif, yakni sikap tanpa harus menolak Nihilisme. Biarkan nilai-nilai tertinggi itu runtuh. Kita, tak perlu risau akan kehancuran nilai-nilai kosong itu. Nietszche mencoba melakukan pembalikan seluruh nilai dengan cara membiarkan segala hal yang berindikasi pada kebenaran absolutisme jatuh bersama puing-puing legitimasinya. Begitulah cara kita menikmati Nihilisme, kata Nietszche.
Nietszche menyatakan bahwa orang yang bisa melakukan usaha Nihilisme aktif hanyalah mereka yang paling berbudaya dan mempunyai “Kehendak untuk Berkuasa—will zur Macht”. Mereka adalah orang yang sudah berhasil berevolusi dari tradisi barbar, normal, lalu asketik. Orang asketik berarti individu yang mampu mengatasi diri sendiri dan merasa menguasai dirinya sendiri.
“Kehendak untuk Berkuasa” adalah spirit perlawanan yang mempengaruhi seluruh karya Nietszche. Ia katakan, bahwa dunia adalah kehendak untuk berkuasa, hidup adalah kehendak untuk berkuasa, dan moralitas adalah ungkapan kehendak untuk berkuasa. Karena itu, Nietszche dalam salah satu tulisannya menyebut karakter semacam ini sebagai Übermansch, yakni manusia “ideal” yang mampu merealisasikan kemungkinan dan potensinya. Ia bisa mengatasi status kebinatanganya dan mencapai situasi optimal untuk mencapai kemungkinan. Sehingga spirit yang muncul dalam mengatasi Nihilisme itu bukan lagi “kamu harus”, melainkan “aku ingin”.
Filsafat pemberontakan Nietszche sebetulnya ingin melawan segala bentuk ketidakberesan cara berpikir manusia dalam mengatasi hidup. Manusia, yang selama ini menundukkan dirinya pada lindungan nilai-nilai kepastian ilmu pengetahuan dan agama, coba Nietszche ajak untuk tidak takut melintasi hidup. Manusia tidak boleh lagi terbawa dan melupakan diri akibat terlalu kuatnya pengaruh kepastian ilmu pengetahuan dan agama. Nietszche mengajak manusia agar segera melepaskan baju-baju kepastian itu dan lebih mencintai kehidupannya dengan berkata “Ya” pada Nihilisme yang niscaya tiba.
Jadi, kalau kita perhatikan dengan seksama, arah gagasan “Kehendak untuk Berkuasa” dan Übermansch tidak lain adalah ajakan untuk mengafirmasi hidup dan dunia. Rasanya disaat murungnya dekadensi nilai-nilai dalam masyarakat, sikap semacam ini cukup pantas kita tumbuhkan sebagai spirit perjuangan menuju kebangkitan umat manusia. Gott ist tot! Und wir haben ihn getotet! Requiem Aeternam Deo!
– Sari pikiran selepas membaca buku St. Sunardi, Nietzsche