Aide-mémoire

Entries from May 2008

Our Time for Change Has Come!

May 24, 2008 · 3 Comments

Krisis intelektual di kalangan kita harus segera kita akhiri, Kawan! Saatnya kita, generasi Filsafat, mengawal kembali bendera Filsafat menuju peradaban intelektual. Kita telah sedemikian lama terlelap pulas dalam kubangan riuh disorientasi. Gejala-gejala dekadensi intelektual telah menggerogoti identitas kita, orang-orang Filsafat, yang seharusnya identik dengan karakter wisdom, progresif, kritis, radik, dan plural.

Selama ini kita seringkali mengabaikan tugas utama Filsafat, yakni melahirkan gagasan-gagasan cerdas yang bermanfaat bagi bangsa, Negara, dan seluruh umat manusia. Mandataris Filsafat adalah tekun melakukan kerja intelektual kritis dalam rangka membentuk manusia beradab. Melimpahnya isu-isu strategis di sekitar kita sepantasnya memantik kita untuk bergerak menyumbangkan solusi terbaik atas persoalan tersebut. Seluruh potensi harus kita arahkan sejak dini guna mencapai cita-cita progresif, serta tidak melulu pasrah, berpangku tangan, apatis, dan diam tanpa tindakan.

Kita memerlukan suatu media yang tepat untuk mengaktualisasikan kreatifitas dan potensi mahasiswa yang selama ini belum tergali secara maksimal. Melalui media ini, talenta mahasiswa coba kita olah dan kita pacu kembali. Tidak boleh lagi mendiamkan potensi brilian mahasiswa, lenyap tanpa ekspresi. Jangan sampai kita, generasi Filsafat, mandul dalam status kekonyolan sendiri, terasing menuju kulminasi pembodohan terselubung. Bukan kebetulan nasib memilih kita sebagai seorang muda yang tidak pernah puas akan keadaan kita. Kita, orang-orang Filsafat, telah terkena kutukan agar sering-sering menyapa ruang-ruang gelisah, marginal, dan riuh persoalan. Sebab kita sadar bahwa kita perlu perubahan hakiki.

Hasrat perubahan semacam ini seringkali hinggap dalam benak kita sepintas, atau barangkali menguap dalam obrolan-obrolan yang tidak terlalu bermanfaat karena selepas lelah berbusa-busa dalam diskusi, kita kembali diam dalam lukisan biasa seolah-olah semua persoalan selesai begitu saja. Bukan demikian kerja Filsafat. Implementasi sesudahnya harus kita tata secara tegas, dan harus secara jelas pula memberi manfaat bagi kita, para pecinta Filsafat.

Mari kita padukan kekuatan besar kita. Kita sinergikan talenta brilian kita. Kita jemput kembali masa kejayaan peradaban Filsafat. Kita tunjukkan pilar-pilar kepedulian Filsafat terhadap persoalan-persoalan bangsa. Secara jujur dan berani, mari kita sumbangkan karya terbaik kita, dalam bidang apapun, untuk mengharumkan nama baik Ibu Pertiwi, Tanah Air Indonesia. Kita sepantasnya malu bergelar “mahasiswa” jika tidak turut serta menghimpun kemampuan mengurai dan memecahkan persoalan-persoalan bangsa kita, Negara kita, dan Kampus kita. Proyek perubahan Filsafat harus segera kita mulai. Our Time for Change Has Come!

– 23 April 2008

Categories: esai-esai

12 Desember 2007 – 24 Mei 2008

May 24, 2008 · 2 Comments

Kupu-Kupu Pagi, bangunkan peri kecil di sana.
Ia begitu nyenyak dalam lelap selimut malamnya…

Ajarilah ia terbang bersama hening subuh.
Sembari berenang dalam segarmu, dalam cerahmu…

Met pagi, Kupu-Kupu…
Damailah bersama Peri Manismu…

Categories: krenteg

Lagi-Lagi, Soal “Cinta”

May 24, 2008 · 1 Comment

Ada seorang Raja angkuh duduk bersanding mesra dengan kekuasaanya. Seluruh rakyat percaya, ia ditakdirkan oleh Dewa sebagai pengayom, pelindung, dan pembela rakyat. Peraturan yang ditetapkan Raja selalu dan harus dianggap benar, karena legalisasinya adalah “kehendak Dewa”. Dengan membawa-bawa nama dewa ini, rakyat yang bodoh tak punya daya apa-apa. Payung hukum pembelaan tak pernah mereka temukan. Hanya Sang Raja yang berhak memegang payung penyelamat itu.

Akibatnya, tak sedikit kebijakan Raja hanya melahirkan ketidakwajaran dan pro-kontra di mata rakyat. Terlebih bukan hanya dia yang melakukan kesewenangan itu, para pejabat bawahannya pun sama brutalnya, bahkan lebih brutal ketimbang Sang Raja.

Suatu ketika ada seorang pria pelajar miskin mencintai Si Putri Raja. Terang saja jatuh cinta, selain satu kelas dan teman bermain di Padepokan Ilmiah, Si Putri juga satu-satunya wanita yang paling cantik, cerdas, dan (jelas) paling kaya diantara sekian banyak wanita di kelas itu. Laki-laki mana yang tidak jatuh hati dengan model wanita seperti ini. Penulis pun akan melakukan hal sama dengan pria ituJ

Di luar dugaan teman-teman sekelasnya, ternyata Si Putri cantik juga mencintai pria miskin tadi. Cinta itu tumbuh karena sang pria selain juga tampan, ia termasuk pelajar yang cerdas, baik hati, tidak sombong, dan suka menabung. Yang kurang dari pria itu hanya satu: kurang harta. Kendatipun begitu, kekurangan itu tidak meluluhkan kesungguhan cinta Si Putri Cantik. Malahan semakin memantik Si Putri bersikap lebih bijak dan bertekad ingin sehidup semati dengan pria pilihannya itu.

Kata pepatah, pucuk di cinta ulam pun tiba. Cinta keduanya mekar bersemi ditengah batas-batas sosial yang serba paradoks. Hari-hari indah di Padepokan Ilmiah mereka lalui dengan canda, tawa, saying, dan kasih. Persis seperti cerita cinta Laila-Majnun dan Romeo-Juliet.

Kabar percintaan keduannya terdengar fasih di telinga Raja. Raja pun marah. Naik pitam wajahnya. Harga dirinya serasa diinjak-injak oleh kaum murahan. Batas hukum pelindung rakyat, ia tabrak. Ia perintahkan kepada “gerombolan” intelnya supaya menyelidiki pria itu, dan jika perlu, tidak segan-segan membunuh pria itu. Perintah Raja berarti perintah Dewa. Sang intel tak kuasa menolak perintah Raja. Gelar ”pahlawan” akan mereka sandang jika perintah Raja terlaksana dengan baik, meskipun hukum Dewa sebenarnya tidak menghendaki demikian.

Benar saja, dua hari selepas perintah dimuntahkan, “gerombolan” intel telah tiba di pelataran istana sembari menjinjing bungkusan hadiah untuk Raja. Sang Raja senang bukan kepalang menerima hadiah itu. Kepala pria miskin telah terpisah dari raganya. Ia mati sebagai korban kesewenang-wenangan penguasa.

Pada saat yang sama, tangis isak kesedihan membanjiri suasana Padepokan Ilmiah. Mereka kehilangan seorang teman yang baik hati. Jauh-jauh di seberang laut, orang tua pria miskin menjerit sedih. Demi mematuhi adat leluhur, mereka harus segera menjemput tubuh tanpa kepala itu untuk dikuburkan di tanah leluhurnya. Sementara, di dalam istana megah, seorang Putri tak kuasa membendung luluhan air dari mata cantiknya. Cintanya telah hancur disobek-sobek oleh kebengisan ayahnya sendiri. Tekad telah mengeras menjadi batu. Keputusan harus diambil. Malam itu juga ia ditemukan tergantung melepaskan nyawa.

Dua insan mati percuma atas nama Cinta. Ya, lagi-lagi, soal Cinta!

Soe Hok Gie pernah menulis, ”sejarah dunia selalu berangkat dari kekerasan, penindasan dan kejahatan”. Yang menang adalah yang berkuasa. Dan yang berkuasa hakikatnya hanyalah ”oknum” kekuasaan belaka. Hampir-hampir, sejarah tidak akan pernah ada, jika tanpa kekerasan, katanya.

Indonesia pun rasanya juga lahir dari kemelut penindasan. Kita telah keluar dari penindasan penjajah asing. Namun tenyata kita, di saat yang sama, telah menciptakan sistem penindasan yang baru. Tak terbilang jumlahnya, ”oknum-oknum” penindasan bergentayangan di negeri ini. Mereka tertawa dan berseragam atas nama pengayom dan pelindung rakyat. Mereka, ”oknum-oknum” itu adalah orang yang tahu hukum, dan dipercaya sebagai penegak hukum, namun mereka justru orang pertama yang menginjak-injak hukum itu sendiri. Alangkah kasihan negeri ini, bertahan di balik kesemuan belaka.

Tugas seorang raja bukan sebagai pemanis negara saja, tapi berkomitmen menjunjung tinggi moralitas. Karena yang mereka hadapi adalah manusia, bukan benda mati! Disamping profesionalitas kerja, pentingnya perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) harus disadari sebagai satu landasan strategis dalam melaksanakan tugasnya. Namun mau bagaimana lagi, jika ternyata kesadaran ini telah tercabik-cabik ditengah memudarnya kekukuhan sebagian kita menuju Indonesia yang padu. Menjadi jelas hal yang harus kita lakukan adalah revitalisasi moralitas pelaku kekuasaan, jika tidak ingin reinkarnasi Raja angkuh itu lahir di Indonesia.

–M Najib Yuliantoro

Categories: esai-esai