“Gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang. Hanya di puncak gunung aku merasa bersih. Dan kecintaanku pada alam adalah bagian penting dari kejiwaan cinta-Tanah Airku” (Soe Hok Gie)
Gie adalah seorang penjelajah alam dan pendaki gunung yang cukup melegenda di kalangan penggiat alam. Konon istilah Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) lahir dari gagasannya (?). Namanya selalu abadi di kalangan penggiat alam, karena ia termasuk dalam deretan mahasiswa yang meninggal dalam tugas suci penaklukan alam, yakni gunung tertinggi di Jawa, Semeru. Di gunung impiannya itu, perjalanan hidupnya terhenti di usia 27 tahun. Usia yang cukup muda untuk seorang Soe Hok Gie.
Judul tulisan ini terilhami film Apa Yang Kau Cari Palupi, garapan sineas (alm) Asrul Sani. Belakangan ini tengah menjadi jelas, pemanasan global adalah aktifitas alam yang tidak dapat ditolak lagi. Ia menjadi keniscayaan proses “seleksi alam” yang mengancam kehidupan makhluk bumi. Akankah hal ini benar indikasi awal dari akhir usia bumi kita? Ya, salah satu isu ke-alam-an yang seolah-olah out of date, tapi sebetulnya penting dan genting untuk segera dituntaskan.
Majalah Time edisi 1 Oktober 2007, sebagaimana dikutip Eep Saefuloh Fatah, memperlihatkan lapisan es di Kutub Utara menyusut lebih dari 20 persen dalam 25 tahun terakhir. Pencairan es ini akan terus berlangsung hingga tinggal 20 persen pada 2040. Saat itu Indonesia diestimasikan kehilangan lebih dari 2.000 pulaunya tenggelam. Indikasi itu dapat kita yakini saat melihat sebuah satelit yang menggambarkan perubahan Jakarta secara dramatis. Tahun 2010, diperkirakan air laut sudah makin merambah masuk ke daratan. Pada 2020, sebagaian Bandara Soekarno-Hatta mulai tergenangi air laut. Bahkan, pada 2050, permukaan air laut sudah mengancam kawasan Monumen Nasional di pusat Ibu Kota (Kompas, 25 September 2007).
Alam selalu bicara dengan kepolosannya. Ia memiliki ritme kehidupan yang minta dimengerti oleh manusia. Kenakalan alam, tak bukan, akibat manusia sebagai binatang berpikir, tidak memanfaatkan otaknya untuk memahami mereka. Harusnya manusia paham, bahwa alam telah menegaskan dengan hukumnya, positif dan negatif. Disana ada hukum kausalitas. Setiap melakukan sesuatu, akan mengakibatkan sesuatu yang lain. Misalnya seorang mahasiswa yang tekun belajar, sebagaimana hukum alam, seharusnya ia pandai. Bila dari sudut kemanusiaan, siapa yang berbuat baik/buruk pada sesama, maka ia berhak diperlakukan serupa oleh sesamanya. Jika dari sudut Tuhan (kalau ada), siapa yang rajin beribadah, maka ia akan mendapat balasan surga (lagi-lagi, jika ada). Siapa menanam, akan menuai. Selalu ada roda sebab-akibat yang tak mudah dihentikan.
Sejarah kekacauan dunia lebih banyak terjadi karena ketidakpatuhan manusia terhadap hukum alam tadi. Kobaran api tidak akan pernah padam, jika disiram dengan api. Hukum alam masih percaya, api hanya bisa diselesaikan dengan musuhnya, air. Meskipun bisa saja, api dimusnahkan dengan selain air, misalnya hempasan angin kencang. Namun pada prinsipnya, api (anggaplah sebagai entitas positif) tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa, dipadamkan dengan api pula. Untuk memadamkannya, ia perlu entitas negatif, diluar dirinya. Gejala-gejala semacam ini yang pada perkembangannya melahirkan ilmu-ilmu eksakta.
Alam masih berharap kehadiran seorang sahabat yang mau bercengkrema hidup damai bersamanya. Sahabat itu adalah ketika menciptakan sesuatu bagi dirinya, juga menghadirkan kenyamanan bagi alam. Jika seseorang hendak menebang hutan misalnya, ia juga harus sedia menanam kembali embrio baru untuk pelestarian hutan dan antisipasi tanah lonsor. Jika seseorang menciptakan rumah kaca, maka sebagai sahabat alam yang baik, ia juga harus rajin menanam hijauan tumbuhan, agar tidak mempercepat perjalanan pemanasan global. Harmonisasi hubungan semacam inilah, yang menjadi spirit mengapa Mapala mendesak sebagai kebutuhan.
Dari melimpahnya pemahaman ini, barulah kita dapat mengembangkan sebuah alam Indonesia yang kuat dan asri. Dalam pemikiran lebih jauh, akan hadir kecintaan terhadap Tanah Air Indonesia yang kaya potensi alam. Dengan mempertahankan ekosistem yang ada, tentu kita menjadi sadar terhadap proses melestarikan dan membuang, yang biasa terjadi dalam sejarah manusia, bukan?
— Terbit pertama kali di Buletin Jahe, BKM Panta Rhei Filsafat UGM, edisi November 2007