Dua Minggu di Negeri Orang: Sebuah Catatan Perjalanan

Pagi itu, 6 Mei 2009. Udara begitu hening, meraup-raup, berebut pelan. Tak lama lagi saya akan tinggalkan semua kesibukan di Jogja. Pesawat GA 205 jurusan Jakarta sudah menunggu dinaiki. “Jam 10.25 kita harus sudah tiba Cengkareng, cepat!”, katanya menderu.

Perjalanan panjang segera dimulaii.

Frankfurt: terasa aneh di telinga. Sebuah nama yang tak banyak saya ketahui. Konon, di sana ada sekolah bernama The Instititute of Social Research—sebuah laboratorium pemikiran filsafat, pencerah “kiri baru”, yang dihuni oleh Hokheimer, Adorno, Marcus, dan Habermas. Tak mungkin, pikirku. Itu kota keramat bagi para pembaca filsafat—sepertiku. Setelah kuraba-raba diri: saya memang tidak sedang berkhayal. Kota itu memang yang sedang hendak dituju. Tegang, ngilu, gembrobyos—bukan karena sebentar lagi tiba di Frankfurt, tapi pengalaman pertama menaiki pesawat terbang itulah yang membuat saya merinding, ndredeg, spot jantung.

***

7 Mei 2009, 06.00 pagi waktu setempat. Tanah yang dijanjikan itu mulai teraba oleh roda pesawatku: Qantas-QF5. Tepuk tangan penumpang dari penghujung depan hingga belakang begitu riuh bergemuruh, takjub, bagai baru saja nonton pertunjukan karya John Sebastian Bach di Leipzig Gewandhaus Orchestra. Setelah 12 jam lebih di pesawat, kita disuguhi sebuah leanding pesawat yang begitu indah, lembut, nyaris tanpa getar. Itu sebabnya semua bertepuktangan, apresiasif, penuh semangat.

Kota Frankfurt begitu bersih dan sepi. Pohon-pohon masih lebat, rindang, bagai kota di tengah hutan. Gedung-gedung tinggi menjulang ke atas seolah hendak menyalami langit. Semua serba tertata rapi, tertib, disiplin, kering—bukan gaya-gaya posmo lah kira-kira. Kendaraan yang lalu-lalang hanya tram (semacam busway), mobil, dan sepeda-pancal. Jarang terlihat orang mengendarai sepeda motor. Tak ada pula orang nongkrong di sembarang tempat. Di siang hari, orang-orang bekerja di dalam ruang, dengan serius, detail, serta ketekunan yang selalu saya kagumi.

Di Jerman sendiri, kota Frankfurt memang dikenal sebagai the city of the banks. Tak kurang dari 300 bank berkelas, nasional maupun internasional, bertengger di kota ini—kecuali dari Indonesia (maybe). Saya menyaksikan sendiri betapa di setiap sudut jalan selalu ada kantor bank: Deutsche Bank, Commerzbank, Dresdner Bank, European Central Bank dan seterusnya. Di antara sekian deret bank, nama yang paling saya sukai adalah Deutsche Bundesbank (German Federal Bank).

Persis seperti Jogjakarta, Frankfurt dikenal juga sebagai kota multikultur. Para perantau, imigran, konon, lebih senang mendatangi kota ini ketimbang kota-kota lain. Entah kenapa. Lebih dari 180 kebangsaan: Turki, Yunani, Italia, Rusia, Kroasia, India, Afrika Selatan, Lebanon, Korea, dan seterusnya. Tentang agama, mayoritas Protestan, dibawahnya, Katolik, Islam (3,5 juta jiwa), baru Yahudi (7.300 jiwa). Saya tak begitu tahu soal perkembangan Islam di sini. Tapi Mas Agus—teman saya di Frankfurt—sempat bilang, baru saja didirikan sebuah masjid di Franfurt, bernama Abu Bakr. Ia sebut pula, semenjak 1970, di seluruh Jerman sudah berdiri tegak, tak kurang dari 2.600 mushola, 120 masjid. Saya jadi teringat sebuah pameran yang digelar di Bandung, Mei lalu. Yaitu sebuah pameran fotografi, karya Willfried Dechau, seorang fotografer Jerman, yang berusaha mengabadikan potret kehidupan muslim dari masjid ke masjid, dari kota ke kota: Pforzheim, Manneheim, Hamburg, Stuttgart, Frankfurt dan seterusnya.

***

Siang itu, masih tanggal 7 Mei, saya bersama-sama 14 delegasi Indonesia, oleh KJRI (Konsulat Jendral Republik Indonesia) Frankfurt diajak menelusuri Frankfurt lebih intim: Römerberg, Historisches Museum, Sungai Rheine, dan Frankfurt Hauptbahnhof (Central Station). Beberapa tempat penting lain, seperti Johann Wolfgang Goethe University, Deutschherrn Bridge, dan St. Bartholomeus Cathedral, hanya sempat kami lewati. Tak semua tempat-tempat yang saya kunjungi itu menarik memang. Tapi cukup berkesan bagi saya sebagai sebuah pengalaman pertama. Ya, pengalaman pertama memang seringkali melekatkan kesan mendalam, apalagi “malam pertama” saya di kota ini: gila, serangan jetlag membabi buta tiada ampun!

Sebetulnya saya ingin sekali berkunjung ke The Instititute of Social Research, lokasi Madzhab Kritis menelorkan gagasannya. Juga Max Plancke Society, laboratorium riset-riset dasar, yang belakangan baru saya tahu dari Mas Sonny—teman baik saya di Leipzig, bahwa komunitas ini telah melahirkan banyak tokoh penerima hadiah nobel. Selain Max Plancke Society, sebetulnya ada tiga komunitas riset utama lainnya yang sebagian besar dibiayai negara. Setiap komunitas ini, termasuk Max Plancke Society, punya berbagai institute yang tersebar di seluruh Jerman.

Tiga itu adalah, pertama, Helmholtz Society; ini untuk riset interdisipliner. Komunitas Helmoltz adalah komunitas riset dengan peneliti dan dana riset terbesar di Jerman. Risetnya dari antariksa sampai kutub utara, juga lingkungan. Meski interdisipliner, tahun lalu, nobel kedokteran diperoleh peneliti Helmholtz; dua tahun lalu nobel fisika juga diboyong oleh peneliti Helmholtz, Peter Gruenberg, lantaran sumbangannya dalam teknologi penyimpanan data, antara lain, membuat prosesor laptop berkapasitas besar, tapi berukuran lebih mungil.Kedua, Frauenhofer Society; ini untuk applied research. Riset yang diarahkan untuk industri. Tak heran Frauenhofer adalah komunitas riset dengan produksi paten paling banyak. Dan terakhir, Leibniz Society; ini untuk riset-riset strategis.ii

Sayang, saya tak boleh berlama-lama di kota ini. 8 Mei, jam 11.19 siang waktu setempat, saya dan Brigitta—teman baik saya di Filsafat UGM—sudah ditunggu oleh sebuah kereta api, tujuan Leipzig. Di kota ini, dosen saya sudah tak sabar menunggu sebuah bingkisan “spesial” dari Indonesia…

***

Tak ada jam karet. Tepat jam 11.19 kereta tujuan Leipzig, berangkat.

Saya menunggangi kereta DB Bahn (Deutschen Bahn) IC (Inter-City) 79659. IC adalah jenis kereta kualitas kedua sesudah ICE (Inter-City Express), berkecepatan 300 km/jam. Kereta ini sungguh terawat dengan baik: bersih, rapi, luas, fasilitas AC, Warung Makan, WC, Wi-Fi. Tenang, tak berisik. Tak ada riuh obrolan yang gayeng seperti di kereta Jogja-Tulungagung. Semua sibuk dengan dirinya sendiri, seorang diri, tak ada basa-basi.

Untuk kantong Indonesia, kereta jenis ini memang cukup mahal. Sekali jalan, sekitar 60-100 uero (800.000-1.500.000). Tapi saya cukup beruntung karena telah terbantukan oleh German Railpass—sebuah layanan tiket kereta, paket hemat, bagi para pelancong dari luar Eropa. Tiket ini hanya bisa dibeli di luar Eropa. Saya beli tiket ini seharga 160 euro di Jogja. Dengan tiket itu, saya menghemat anggaran hampir 500 uero, plus gratis naik kereta jenis apa saja, kemana saja.

Pemandangan di sekitar kereta tampak elok, polos. Lebih menarik daripada Frankfurt. Kuning, hijau daratan, amat lapang dan luas, seperti sawah, sepi dari penghuni. Baling-baling sumber energi listrik tenaga angin, berputar-putar pelan di sekitarnya. Rumah dan gedung terlihat meloncat-loncat, sepotong-sepotong, bagaikan titik-titik koordinat yang saling menjauh terpisah. Satu per satu, kota-kota kecil dan sedang terkejar: Fulda, Eisenach, Gotha, Erfurt, Weimar (kota dimana Nietzsche menemui ajal),….. dan akhirnya, jam 14.41, tepat sesuai jadwal, Leipzig.

***

8 Mei 2009. Dua kaki saya di atas tanah Leipzig. Jauh berbeda dan tidak sekaku Frankfurt. Kota bekas alumni Jerman Timur ini memang sedang berbenah. Saya melihat banyak rehap bangunan di sana-sini. Kota Leipzig, kabarnya, hendak disulap menjadi salah satu kota pusat industri bagian Jerman Timur.

Di kota ini bercongkol sebuah kampus penting bernama Leipzig Universityiii (1409), universitas tertua kedua sesudah Heidelberg University (1386). J. Gottsched, Leibniz, Gothe, Fichte, Richard Wagner adalah beberapa tokoh brilian yang pernah menikmati belajar di sini. Konon Nietzsche pernah pula singgah di sini, lantaran takjub dengan pementasan Tristan dan Meistersinger, karya Richard Wagner.

Saat saya datang, Universitas Leipzig juga tengah bersolek. Desember, 2009 nanti, menyongsong 600 tahun usianya, Universitas Leipzig hendak merayakannya dengan, salah satunya, mengundang seluruh ilmuwan dan filosof terkemuka dari seluruh dunia. Tentu yang tak mungkin terlewat adalah sebuah pertunjukan orkestra di Leipzig Gewandhaus karya J.S. Bach. Karena di kota inilah composer genius itu dimakamkan dan diagungkan.

Beberapa tempat istimewa memang ada disini. Saya cukup terkesan saat ditemani Pak Farid (dosen saya) dan Mas Sonny ketika mengunjungi City-Houchhus Leipzig, St. Nicholas Church (Thomaskirche), Bundesverwaltungsgericht (The Federal Administrative Court of Germany), Gedung Gewandhaus Orchestra, Altes Rathaus, Mädler-Passage (di bawahnya, ada ruang bawah tanah, bernama Auerbachs Keller, seperti restoran, tempat Gothe menulis Faust), Altes Rathaus, Stadtisches Kaufhaus, dan Moritz Bastei—café mahasiswa bawah tanah.

Selebihnya, ada dua tempat di kota ini yang paling saya sukai. Pertama, University library Bibliotheca Albertina. Sebuah perpustakaan legendaris, berusia 6 abad. Ada lagi, Deutsche Bibliotheca—satu-satunya perpustakaan yang khusus mengoleksi penelitian dan publikasi berbahasa Jerman. Konon, setiap hari, tak kurang dari 200 penelitian dan publikasi berdatangan, menambah deretan koleksi perpustakaan. Kedua, Trodel & Gebrauchtwarencenter, yaitu pusat barang-barang bekas, atau boleh disebut: klitikan. Berbeda dengan klitikan Malioboro, klitikan Leipzig memang menjual barang-barang bekas, tapi rupa dan kualitasnya jauh dari sebutan bekas. Harganya pun cukup terjangkau.

***

9 Mei 2009. Tiba di Technische Universität Ilmenau, Thuringen. Tempat konferensi ISWI (9th International Student Week in Ilmenau) diselenggarakan. Ilmenau adalah salah satu kota kecil (sekali) di negara bagian Thuringen. Secara struktural dan kultural, Ilmenau adalah bekas bagian dari Negara Jerman Timur. Kota ini dikerubuti gunung-gunung. Tak seramai Leipzig, apalagi Frankfurt, dan memang bukan merupakan kota kapital.

Teman-teman saya yang dari Frankfurt sudah datang sejak siang tadi. Saya bersama Brigitta memang datang agak telat. Kami baru mulai melengkapi registrasi selepas makan malam. Tapi tak mengapa. Karena di belakang kami ternyata masih banyak juga yang terlambat. Tapi itu bukan justifikasi keterlambatan kami. Terlambat ya terlambat !

ISWI tahun ini diikuti oleh 361 mahasiswa dari 72 negara. Indonesia adalah negara pengirim peserta terbanyak keempat sesudah Ukraina (58 delegasi), Rusia (34 delegasi), Georgia (24 delegasi), baru Indonesia (19 delegasi: 3 cowok 16 cewek).

Tema ISWI kali ini adalah “Human Right, Right Now!”. Para peserta dipersilakan memilih bidang kajian sesuai minat yang terfasilitasi oleh groupwork. Di hari pertama saya memilih Human Right and Politics Group, sebelum kemudian di hari kedua dan seterusnya, saya lebih senang memutuskan bersama Philosophy Group. Tak banyak peserta yang meminati group ini. Entah kenapa. Di kelas ini, saya hanya ditemani 9 orang. Tapi itu bukan alasan untuk tidak berdiskusi. Dan benar perkiraanku: bukan kuantitas, yang penting kualitas. 9 orang ini memang mahasiswa luar biasa. Bukan lagi pemikiran teoritis-filosofis itu yang diulas, tetapi jauh lebih radikal, yakni mensintesiskan pemikiran-pemikiran filsafat ke dalam kasus-kasus hak asasi manusia. Simpul-simpul otak saya meletup-letup, tertantang takjub oleh gairah intelektual yang begitu erotis, penuh apresiasif terhadap gagasan, tak takluk pada keselesaian.

Selain diskusi group, saya juga mendapat kesempatan mendengarkan dan berdiskusi dengan para ahli, aktivis, dan ilmuwan pada sesi general lecturers. Saya akan menyebut mereka semua di sini:

Dr.Wolfgang Heins (Assistant Lecturer of the Freie Universitat Berlin and member of the anti-torture-committee of UN-Human Rights Council), Dr.Hans Rudolf Herren (Scientist of Biological Pest Control and World Nutrition Awardee, penerima World Food Prize tahun 1995), Mona Montakef (Social Scientist, Worker of the German Institute of Human Rights), Dr. Ulrike Von Pilar (the Former President and Co-founder of German Departement of Medicins Sans Frontieres), Landolf Scherzer (Journalist and Writer), Prof. Godula Kosack (German Professor, Lecturer on Women Rights Violations), Brian Wood (Amnesty International Researcher and Policy Manager for Military, Security and Police Transfer), dan Prof. Dr. Angelika Köster-Lossack (Scientist of Indology, Anthropology, and Sociology in the Heidelberg University).

***

Saya ingin cerita sedikit tentang sebuah diskusi sederhana antara saya dengan seorang ilmuwan sosial dari Heidelberg University, Prof. Angelika namanya. Bagi saya, pertemuan ini begitu istimewa karena bertolak dari sini, saya benar-benar sadar akan “pentingnya mbangun deso”; back to our country.

Pada mulanya saya coba bertanya soal pandangan beliau, sebagai representasi Barat, terhadap Indonesia, terutama tentang HAM. Tanpa sengaja, di sela-sela obrolan itu saya menyebut-nyebut komunitas saya: Being Community dan Jurnal KacaMata yang, saya katakan, begitu tekun mendalami karya-karya Filsafat Barat. Ia menjawab begini, “Oh, bagus sekali… tapi kenapa Anda tidak belajar filsafat anda sendiri, Filsafat Indonesia. Bukankah itu lebih menarik daripada anda belajar filsafat kami (Filsafat Barat)?”. Pertanyaan itu membuat saya terhenyak. Kerut, dahi saya.

Lalu saya jawab, “yah, kita memang sedang membangun Filsafat Indonesia melalui cara kita sendiri, Prof. Sebagaimana Prof ketahui, Pancasila adalah salah satu dari hasil pemikiran filsafat bangsa kami…”. Beliau langsung katakan, “Nah, itu yang membuat kami sangat tertarik kepada Anda, anak muda… Harmony in Diversity; Bhineka Tunggal Ika”.

Rasanya begitu bangga menjadi Indonesia. Apakah memang begitu ya? Kadang kita tak sadar, seonggok “permata-permata” itu ada di sekitar kita, di dekat kita. Sesuatu yang barangkali Eropa pun tak memiliki dan perlu belajar kepada kita. Itulah kenapa kira-kira Tuhan menciptakan perbedaan di sana-sini: bukan untuk digerutui, tetapi untuk direnungi dan dipahami.

***

Selama 9 hari di Ilmenau, saya memang merasa sangat dimanjakan oleh berbagai pertunjukan dan festival, yang membuat saya bertekuk lutut, kagum. Festival seni, musik, fotografi, pemutaran film, jalan-jalan di Erfurt Cathedral, St. Severus Chruch, Domplatz, Benediktplatz, Kulturhof, menikmati “keanehan” makanan khas Jerman di Ratsteller, dan sembilan hari “tersiksa-nikmat” menjadi vegetarian tulen tanpa nasi, berlauk terong bakar, apel hijau, roti kering, dan wortel mentah.

16 Mei 2009, malam. ISWI 2009 resmi ditutup. Keesokan harinya, saya kembali ke Leipzig, melepas penat, di rumah dosen saya. 19 Mei, saya berangkat ke Munchen naik kereta ICE. Saya coba iseng ngecek harga tiket kereta ICE Leipzig-Munchen. Astaganaga, 102 euro, sekali jalan! Tetapi saya memang tak perlu bayar. Germanrailpass masih bisa dipakai, gratis. Sayang, di Munchen, saya hanya menyusuri pojok-pojok Munchen Hauptbahnhof. Tak bisa kemana-mana, karena waktu begitu cepat. Sebelum malam saya harus kembali ke Leipzig.

20 Mei, saatnya kembali ke Indonesia. Pesawat saya parkir di Frankfurt, berangkat malam jam 23.55. Siangnya, saya putuskan mampir dulu ke Berlin (karena cuma 1 jam dari Leipzig). Di kota ini pun saya tak bisa berlama-lama, waktu terus berlari begitu cepat, mengejar saya. Saya hanya keliling di sekitar Berlin Hauptbahnhof yang sangat besar, megah, dan berbau serba teknologi itu. Sore, 17.40 saya tiba di Frankfurt Hbf. Kereta menuju bandara terlambat 10 menit. Para penumpang yang rata-rata berpakaian sibuk, menggerutu, ngomel-ngomel marah, memaki-maki keterlambatan. Padahal cuma 10 menit, pikirku. Jauh dari kebiasaanku.

20.35. Disambut bule fasih berbahasa Indonesia petugas check-in. Indonesia semakin dekat. Andaikan saja bahasa Indonesia menjadi bahasa international. Wow, pikir saya.

Nologaten, 13 June 2009


i Sebuah perjalanan dalam rangka menghadiri 9th International Student Week in Ilmenau (ISWI) di Technische Universität Ilmenau, Thuringen, Jerman pada 8-17 Mei 2009.

I would like to thank to Cuk Ananta Wijaya, Rosyid and Chairil Anwar ZM who edited my paper “An Aoutline of Global Civil and Political Rights: Indonesia Experiences”. I also thank to Dr. Mukhtasar Samsyuddin (Dean Faculty of Philosophy GMU), Prof. Yudian W. Asmin, Ph.D (Dean Faculty of Syaria UIN Sunan Kalijaga), Samsul Maarif M., Sartini, Farid Mustofa, Imam Wahyudi, Arqom Kuswanjono, Musthofa A. Lidinillah, Mas Sonny, Muhsin Kalida, Qusthan, Azah, Brigitta, KJRI Frankfurt: Om Didit, Teh Mira, Mas Irfan, Kang Agus and Kang Heri who helped me to preparing all needs to this conference. To Pinastika Prajna Paramita (Faculty of Law Studies, Brawijaya University) and Rahmat Hidayat HM (International Student of Economics Faculty, Islamic University of Indonesia): thank a lot for your work in our presentation. I specially thank to my parents and the family who fully support me to attend in this conference.

ii Terima kasih kepada Mas Sonny atas bantuan informasi dan koreksi.

iii Tahun 1953, seorang pemimpin Komunis Jerman Timur merubah nama kampus itu menjadi Karl Marx University of Leipzig. Baru 37 tahun kemudian, nama yang lama kembali disematkan hingga sekarang.

something the lord made

Persis seperti film berbasis true story lainnya, film Something the Lord Made pula memberi suntikan semangat untuk selalu bersikap disisterestedness (bebas kepentingan), menjaga originalitas, dan tak mudah percaya (skeptis, atau bisa dibaca: coriusity) terhadap setiap hal kecuali memiliki bukti yang kemudian memunculkan rasa faith pada tujuan hidup, sekalipun bukti tersebut tidak harus bersifat empiris.

Dr. Alfred Blalock (1899-1964, diperankan secara apik oleh Alan Rickman), memulai terobosan penelitiannya, pada mulanya, berbekal dari dua hal: faith dan skeptis. Ia tak percaya terhadap paradigama medis waktu itu, bahwa penyakit “bayi biru” tak bisa disembuhkan. Begitu pula dengan dr. Vivien Thomas (1910-1985, diperankan oleh Mos Def). Ia sengaja mendampingi Blalock hingga mesti meninggalkan rumahnya di Nashville, hijrah Hopkins, serta menanggalkan cita-cita masa kecilnya bersekolah kedokteran, juga berdasarkan faith disokong kepercayaan yang begitu besar dari majikannya: Blalock.

Tetapi kemudian, ketika Blalock berhasil meluruhkan paradigma lama medis, betapa sebuah komunitas ilmiah begitu penting peranannya. Peran utama komunitas ilmiah adalah sebagai pelegitimasi terhadap hasil penemuan ilmiah baru. Senada dengan pendapat Robert K. Merton (1910-2003), bahwa hasil riset bukan semata-mata untuk individu ilmuwan, melainkan didedikasikan bagi (dan milik) masyarakat dunia. Pemaknaan komunalisme Merton ini tak cukup berhenti di tataran legitimasi, penghargaan, pujian atau hak properti, tetapi harus dipahami lebih substantif, yakni sebagai media untuk menguji hasil penemuan tersebut, apakah dari sudut syarat-syarat ilmiah bisa disebut sukses atau tidak. Dari tolok ukur terakhir ini, peran Vivien tentu tak bisa diragukan. Ia adalah pendorong, inovator, dan pelaku utama operasi “pilot project” anjing yang sukses itu. Namun, dari sisi legitimasi properti, lebih dari 25 tahun, ia tak masuk hitungan dan tak diperhitungkan untuk ditampakkan sebagai “penemu” seperti Blalock, lantaran ia tak memiliki gelar “dokter”—sebuah gelar konsensus yang mesti disandang oleh peneliti bila berharap penemuannya dapat diakui oleh publik.

Hampir mirip tapi tak sama, dan berhimpitan dengan komunalisme, adalah universalisme. Kebenaran ilmiah mesti diindependenkan dari pengaruh politik, agama, ras, nasionalitas, dan gender. Atribut personal dan sosial sama sekali tidak memiliki relevansi dengan gagasan seseorang. Persis seperti tuturan hikmah dalam Islam: undlur ma qola wa la tandlur man qola (lihatlah pendapatnya, jangan lihat orangnya).

Dalam konteks universalisme ini, Vivien adalah seorang ilmuwan yang besar dalam masyarakat dan komunitas ilmiah yang masih menganggap kelas sosial warna kulit masih begitu penting untuk tidak diabaikan. Kita tentu masih ingat bagaimana, dalam film itu, diskriminasi kulit begitu terang ditampakkan. Untuk menyebut sebagian contoh: larangan bagi orang kulit hitam ikut masuk di ruang operasi, pemisahan ruang kamar mandi bagi kulit putih dan kulit berwarna, penghormatan wajib bagi orang kulit hitam kepada orang kulit putih saat berpapasan di jalan, pembedaan bank, ruang pertemuan, tempat sekolah dan lain sebagainya.

Yang paling kentara ialah saat Vivien semestinya ikut serta sebagai salah satu tim operasi yang dipotret media, dan diucapin “terimakasih” oleh Blalock di Hotel Belvedere, disamping karena ia tak punya gelar, juga akibat sebuah stigma sosial bahwa orang kulit hitam adalah tak jauh lebih terhormat dari orang kulit putih. Dalam pandangan Merton, asumsi semacam ini tidak bisa diberlakukan dalam komunitas ilmiah. Tak ada hak istimewa bagi ilmuwan yang berlatar belakang berbeda. Yang membedakan di antara mereka hanya satu hal: gagasan ide.

Yang menarik, meskipun kemudian Vivien amat kecewa dengan perlakuan tersebut, dan sempat mengundurkan diri dari asisten Blalock, namun ia tetap berteguh hati kembali mengabdikan dirinya di rumah sakit tersebut. Hal itu terpelantik bukan karena sosok Blalock atau gaji pekerjaan yang jauh lebih baik daripada gaji seorang sales obat, namun semata-mata menuruti ketulusan cipratan hati nuraninya bahwa “jantung kehidupan saya adalah laboratorium medis”. Bahkan ia lebih bangga mengabdikan dirinya di RS Johns Hopkins sebagai teknisi laboratorium daripada mengejar gelar dokter di kampus kulit hitam, Morgan College. Tak ada ambisi sedikitpun dari seorang Vivien selain mengabdikan diri, tulus sepenuh hati untuk kemajuan bidang kajian yang sangat ia gemari: medis.

Tiadanya kepentingan selain memajukan pengetahuan ini, oleh Merton disebut sebagai disinterestedness atau intelectual honesty (kelurusan hati, kejujuran intelektual). Penerimaan terhadap ide/pendapat seseorang mesti didasarkan pada kenyataan bahwa ide itu memang patut diterima. Bukan karena adanya sebuah tendensi kepentingan macam-macam. Pernyataan ini mematahkan sebuah tradisi buruk penelitian di Indonesia, yakni penelitian pesanan dan pragmatisme penelitian. Seharusnya, berapapun gajinya atau tanpa digaji pun, seorang ilmuwan mesti berkeinginan kuat hanya untuk mengembangkan keilmuwannya. Kadang saya merasa miris, kasihan, melihat beberapa ilmuwan idealis yang tulus memperjuangkan hidupnya untuk kemajuan ilmu yang ia tekuni, jatuh miskin, bahkan masih hidup di rumah kontrakan hingga papa. Tapi kemirisan itu tak ada guna bila kemudian negara, sebagai penaung para ilmuwan, tetap seperti ini: diam membungkam kata.

Dalam film ini, tentu Vivien mengalami pula hal serupa: ilmuwan besar yang hidup di rumah kontrakan. Gajinya tidak besar dan tak cukup membiayai kebutuhan kontrak rumahnya. Konon, hal yang sama terjadi pula pada seorang ilmuwan ekonomi Indonesia, Mohamad Hatta. Selain karena tekanan politik orde baru yang begitu kuat, di usia tua, Hatta sempat tak punya uang untuk sekedar menengok kampung halamannya di Sumatera. Uangnya hanya cukup untuk beli makan dan koran. Kendati pun hingga usia tua, Hatta tetap belajar, membaca, dan berkarya.

Hal lain yang juga terendus dalam film ini adalah originalitas. Blalock, meskipun terlihat arogan dan keras kepala, tetap menjaga dan mengembangkan originalitas ide yang ia miliki. Ia tak mau menuruti tradisi medis saat itu, dan berupaya menciptakan peraturan medis sendiri. Itu berarti Blalock juga cukup skeptis: tidak begitu percaya terhadap paradigma medis yang diimani saat itu. Tetapi saya sedikit ragu tentang originalitas Blalock ini saat sumbangan medis Vivien tak diakuinya di Hotel Belvedere. Barangkali apakah memang seperti itu karakter ilmuwan: arogan dan keras kepala.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan adalah bahwa film ini semakin meneguhkan teori Robert K Merton bahwa CUDOS: Communalism, Universalism, Disinterestedness, Originality dan Skeptisism — dalam sumber berbeda, dua istilah terakhir, dikumpulkan dalam satu istilah: Organized Skeptisism — adalah teori yang memang tergambar kuat dan demikian adanya dalam etos pengetahuan. Hanya saja, etos semacam ini barangkali hanya berlaku dalam ilmu (science) dan tidak di ranah agama—satu tradisi pengetahuan yang tak begitu menghargai originalitas ide manusia dan skeptisme. Benarkah demikian?

kebenaran absolute, adakah ia?

Tujuan utama epistemologi adalah untuk menentukan kriteria, sumber, dan kebenaran suatu pengetahuan berdasarkan argumentasi rasional. Secara objektif manusia berusaha mencari tahu landasan dasar “mengapa, bagaimana, dan untuk apa, ia tahu”.

Karena manusia hidup tidak dalam keadaan ahistoris, maka kerja epistemologis seringkali terembesi oleh otoritas, bahasa, dan konsensus. Untuk hal terakhir, konsensus, tampak begitu terang dalam pengembangan pengetahuan ilmiah. Objektivitas, dalam pengetahuan ilmiah, dianggap sebagai pengetahuan yang benar karena (sekali lagi, dianggap) mendekati kebenaran. Bagi kaum skeptisme tentu akan memertanyakan anggapan tersebut. Benarkah demikian (:mendekati kebenaran)?

Selain pengetahuan ilmiah (science), di aras yang lain, muncul sumber pengetahuan yang sama-sama dianggap benar dan mendekati kebenaran, yakni agama/wahyu dan filsafat. Wahyu, melalui konsensus, diyakini memberi pemahaman lebih baik kepada manusia terhadap pertanyaan akan hal fisik melalui jawaban metafisik-spiritual, dan Yang-Adi-Kuasa melalui Tuhan dan Kitab. Sementara, filsafat, yang menurut penulis hanya merupakan metode radikal, terkadang dianggap pula sebagai pengetahuan, karena ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dari dua model pengetahuan yang lain (ilmu dan agama/wahyu).

Jadi, ketiga model pengetahuan tersebut bisa disebut sebagai satu bentuk metode pengetahuan untuk memahami dan mendekati “kebenaran”. Selain itu, dari ketiga model kebenaran tersebut, masing-masing cenderung menggunakan konsensus sebagai justifikasinya. Sekalipun barangkali secara kebahasaan masih bisa dimaklumi karena secara makna bisa dipahami, tapi lagi-lagi, secara makna pun, kebenaran kadang masih dijustifikasi melalui konsensus—pengecualian, filsafat.

Lantas, jika “kebenaran” didekati melalui metode yang berbeda, bukankah akan memunculkan model kebenaran yang berbeda pula? Padahal, penulis masih meyakini (faith) bahwa kebenaran absolut (absolutly truth) itu ada. Barangkali ia dianggap mustahil oleh sains karena tuntutan kebenaran sains memang mesti berupa hipotesis. Begitu pula, filsafat. Berbeda lagi dalam agama, yang masih percaya (juga, faith) pada kebenaran absolut, dan hanya dimiliki oleh pelindung agungnya: Tuhan.

Kebenaran absolut yang penulis maksud adalah, sebuah kebenaran yang tak perlu justifikasi apa-apa. Ia benar karena memang ia benar. Ketika suatu kebenaran, baru dianggap benar, hanya bila terdapat justifikasi—baik konsensus, bahasa, maupun otoritas—maka, menurut penulis, kebenaran semacam itu belum bisa dikategorikan sebagai kebenaran yang sesungguhnya. Jadi, kebenaran absolut tidak memiliki kriteria dan indikasi apa-apa? Ya, tidak ada. Ia tak terkatakan, tak terbahasakan. Lantas, sungguh adakah ia?